WANITA, TUNTUTAN KERJA DAN RUMAH TANGGA

SELAMA lima bulan di Amerika kemarin ini saya sempat melihat dari dekat betapa sepak-terjang dari kaum wanita Amerika berusaha memperjuangkan dan mendapatkan hak-hak asasi dan hak kewarganegaraannya. Di Amerika sudah barang biasa seorang wanita jadi Menteri, jadi Gubernur, jadi Walikota, jadi anggota Parlemen, jadi Rektor sebuah universitas, dsb, walau belum ada yang jadi Presiden seperti di Indonesia ini. Mereka praktis sudah sama dengan pria dalam hampir semua bidang kehidupan.
Namun kecenderungan yang saya lihat, dan ini sama dengan kecenderungan yang juga saya lihat di Jepang, Korea, Taiwan, dan di negara-negara maju lainnya di Eropah, wanita baru terjun ke dunia politik praktis kalau urusan rumah tangga, khususnya yang berkaitan dengan pengasuhan dan pemeliharaan anak, sudah selesai; dalam arti, anak-anak sudah cukup besar untuk ditinggal-tinggalkan dan dikirim ke tempat penitipan anak (daycare center) ataupun TK.
Rumah tangga di Amerika dan di negara-negara maju lainnya itu rata-rata tidak punya pembantu, sehingga semua-semua dikerjakan sendiri secara bersama-sama. Yang mampu punya pembantu hanyalah sekelompok kecil golongan elit tingkat atas saja, sementara yang lain-lainnya harus kerjakan sendiri semua ritual kerumah-tanggaan secara bersama-sama. Anak-anak, karenanya, tidak dibiarkan manja karena merekapun punya tugas dan tanggung-jawab di rumah seperti juga si bapak. Yang mencuci piring, mencuci pakaian, mengurus rumput di halaman, dsb, biasanya adalah tugas si bapak. Anak-anakpun tidak ada yang membiarkan orang tuanya kerja sendiri. Dan mereka ikut dengan segala macam pekerjaan rumah yang mereka bisa mengerjakannya.
Ibu-ibu muda, betapapun tinggi sekolahnya, ketika tugas utama rumah tangga dalam memelihara dan mengasuh anak memanggil, biasanya berhenti dahulu bekerja, dan perhatian sepenuhnya diberikan kepada anak-anak yang masih kecil-kecil. Fungsi ibu dalam hal ini tidak bisa digantikan dan didelegasikan kepada siapapun; dan hanya ibu yang mampu melakukannya. Karenanya anak-anak tetap mendapatkan kehangatan dalam rumah, karena kasih ibu yang tak tergantikan itu. Setelah anak-anak sudah mulai cukup besar itulah mereka kembali lagi bekerja di luar rumah.
Di Indonesia, ini yang jadi masalah. Banyak ibu-ibu yang karena pendidikan lalu bekerja di kantor-kantor pemerintah maupun swasta. Mereka hanya diberi cuti hamil dan melahirkan selama tiga bulan. Biasanya mereka mengambil setengah bulan sebelum dan dua setengah bulan sesudah melahirkan. Bayangkan, bayi yang masih merah, berumur 2,5 bulan, sudah harus ditinggalkan selama jam-jam kerja yang panjang karena keharusan peraturan kerja. Dan ini berlanjut sampai si anak besar nantinya. Anak-anak lalu diasuh oleh pembantu atau siapapun dari keluarga dekat, jika ada.
Saya bertanya, dan mempertanyakan, apakah bukan ini yang menjadi salah satu faktor penyebab kemunduran kualitas dari generasi muda kita dewasa ini, karena mereka lama baru ketemu air susu ibu serta belaian kasih sayang dari ibu. Lihatlah, betapa banyak anak-anak yang “ngambeg” ketika ibunya pulang dari kantor atau tempat bekerja lainnya, karena yang paling esensial dari kehidupan anak itu betul yang tidak mereka dapatkan. Dan kita juga lihat, anak-anak yang ditinggalkan dan kurang mendapat perhatian dari belaian kasih sayang ibu, cenderung bandel, sukar diatur, dan bahkan liar. Anak-anak cenderung lalu menjadi anak-anak bermasalah. Bermasalah di rumah, bermasalah di sekolah dan bermasalah dalam masyarakat sendiri.
Sekarang kita lihat, betapa banyak anak-anak yang membalikkan peranannya dari yang mestinya baik laku, patuh dan menyenangkan dalam keluarga, sekarang menjadi pemberang, pembentak, dan memperlakukan ibunya seperti pesuruh dengan bahasa tubuh ataupun mulut yang memperlihatkan kekesalan dan ketidak-sukaannya. Sekarang banyak ibu-ibu yang tunduk seperintah anak, dan bukan sebaliknya.
Dan semua ini berpangkal dari kesalahan kita sendiri untuk menyuruh ibu-ibu muda untuk terus bekerja yang karenanya mengorbankan anaknya sendiri. Harapkan penghasilan tambahan untuk bisa beli ini dan itu, anak lalu dikorbankan. Jadinya lebih besar kerugian dari keuntungan material yang didapatkan.
Masalah-masalah seperti ini patut kiranya diangkatkan oleh tokoh-tokoh wanita kita dan menawarkan solusi-solusi jalan keluarnya. Apakah misalnya, mereka bisa memperjuangkan sistem kerja seperti yang berlaku di negara-negara maju itu, yaitu memberi cuti panjang kepada para ibu muda yang bekerja di kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan untuk tidak masuk kantor sampai anak terakhir mereka cukup besar untuk bisa kembali ke kantor atau perusahaan yang sama kembali.
Sementara itu ibu-ibu yang lagi mengasuh anaknya di rumah menciptakan pula lapangan kerja sendiri yang bisa dikerjakan dari rumah. Di Jepang, misalnya, ibu-ibu yang lagi sarat dengan pengasuhan anak itu membikin kerajinan tangan dan rumah tangga yang bisa sangat bermacam — dari jahitan konveksi ke alat mainan, makanan awet dan makanan basah yang diletakkan di toko-toko department store, di toko-toko biasa dan di kedai-kedai di depan rumah sendiri. Pokoknya, tidak ada anak balita yang ditinggal oleh ibunya karena pergi kerja. Nanti, ketika anak-anak sudah mulai masuk sekolah, atau sekurangnya ditempatkan di tempat titipan anak (play group atau day care center), silahkanlah kembali ke tempat kerja semula atau yang baru lainnya.
Perusahaan-perusahaan manufaktur yang membikin berbagai macam barang, pun banyak yang memanfaatkan tenaga wanita di rumah. Mereka antarkan bahan-bahan ke rumah-rumah dan mereka jemput hasil jadinya kembali. Sama juga dengan kerja konveksi yang dilakukan oleh ibu-ibu kita di Pariaman atau di Agam di Bukittinggi, atau di Garut di manapun yang bergerak di bidang konveksi sulam-menyulam.
Dalam suasana memperingati Hari Kartini ini Wanita Indonesia barangkali perlu melakukan kaji-ulang tentang pengasuhan anak yang tidak tergantikan oleh siapapun, tidak oleh suami atau pembantu sekalipun. Tidak ada masalah dengan karier politik, atau karier apapun, tetapi itu setelah tugas utama yang tak tergantikan itu terselesaikan. Dengan itu kita memperbaiki kerusakan generasi dan kerancuan struktural dalam rumah tangga dan masyarakat yang telah terjadi dewasa ini. ***

0 Responses to “WANITA, TUNTUTAN KERJA DAN RUMAH TANGGA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: