WALEED OUR BROTHER IN ISLAM GURU SILAT MINANG DI UNIVERSITAS MICHIGAN

Ditulis ketika menjadi Fulbright Research Scholar, Center for Southeast Asian Studies, University of Michigan, Ann Arbor, MI, USA 4 Februari 2004

SEBELUMNYA kami sudah mendengar juga akan namanya. Bahwa ada seorang guru silat Minang yang mengajarkan silat Minang di kampus University of Michigan, di Ann Arbor. Tapi dia bukan orang Minang, bukan orang Indonesia. Dan bukan pula orang kelahiran Amerika, tetapi Panama, di Amerika Tengah, dekat terusan Panama yang terkenal itu, tempat dia bermain-main waktu kecilnya.
Di malam potluck di Sabtu pertama Desember 2003 yl, di waktu komuniti Indonesia dan orang-orang yang terkait dengan studi Indonesia di Universitas Michigan itu berkumpul setiap bulannya, sambil membawa makanan masing-masing untuk dicicipi pula oleh yang lain-lainnya itulah kami baru pertama kali ketemu. Dia memperkenalkan diri: Waleed. Muhammad Khalid bin Waleed, penuhnya. Orangnya tinggi semampai, atletis, tidak berperut, kulit berat ke sawo matang daripada hitam seperti Keling atau Negro. Mukanya lonjong, bermisai-berjenggot agak panjangan yang sudah mulai bercampur dengan uban; rambutnya kriting, juga sudah ada campuran uban; alis matanya lentik; dan dari balik pelupuk matanya menyorot sepasang bola mata yang tajam dan menembus. Umur? Mungkin sudah 40-an atau awal 50-an. Dia tidak pernah bilang berapa umurnya, dan tahun berapa dia lahir. Bicaranya merendah dan sangat hormat sekali. Dan suka senyum. Tiap sebentar keluar selipan kata alhamdu lillah, insya Allah, masya Allah, bismillah, dsb, menunjukkan bahwa dia bukan sembarang Islam lagi, tapi yang sudah merasuk jauh ke dalam dirinya, walau tadinya dia dilahirkan dan dibesarkan sebagai seorang katolik.
Waktu pertama kali ketemu itu dia pakai jubah, berkupiah belederu hitam seperti orang di Indonesia atau Malaysia, dan punya cincin akik di beberapa jemarinya, kiri-kanan. Orangnya kelihatan parlente.
Dalam perjalanan keluar masuk mobil sesudah selesai acara potluck, dia rupanya diiringkan oleh tiga orang pengiring, yang tadinya waktu pertemuan potluck duduk agak menjauh. Ketiganya bule, jangkung-jangkung, bergerambas bagai bulu-bulu jagung, juga pakai jubah dan berkopiah tarbus seperti orang Bosnia atau Albania. Mereka masih mahasiswa. Dan hormatnya kepada gurunya: masya Allah. Juga kepada kami. Dan merekapun tentu saja Islam.
Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya barulah kami ketahui, nama penuhnya sebelum Islam: Leonardo J(acinto) Stoute. Tetapi di tengah komuniti Islam dia biasa memanggilkan dirinya: Waleed atau Bapak Waleed. (Saya sebenarnya mau bilang, dalam budaya Indonesia tak ada orang yang memanggilkan dirinya “Bapak” ke dirinya. Tapi tergigit lidah juga mau membilangnya, karena sekarang di Indonesiapun orang sudah biasa pula memanggilkan dirinya Bapak anu atau Ibu anu kepada orang lain. Lihat itu dalam acara quiz di radio ataupun TV di Jakarta. Atau seperti Sukarno bicara di hadapan rakyatnya: …seperti Bapak tadi sudah kataaken!).
Leonardo ataupun Waleed sekarang rupanya telah melalui proses panjang untuk masuk Islam. Di zaman siswanya di Connecticut dan mahasiswanya di Maryland, dia sudah ketarik dengan martial arts – seni bela diri – kayak kungfu, karate, dan segala itu. Setelah sampai dapat black belt – sabuk hitam – dia mulai belajar silat, dan tahunya sampailah dia ke Sumatera Barat, ke Kumango, Batu Sangkar, ke Bukittinggi, entah ke mana lagi, belajar, dan benar-benar belajar segala macam bentuk silat, khususnya silat tuo. Dia juga berkelana ke Sumatera Utara, ke Jawa, ke Malaysia, untuk belajar silat dari berbagai perguruannya. Di sanalah dia baru tahu dan merasakan bahwa silat itu tidak sama dengan martial arts. Martial arts, katanya, melihat lawan yang dihadapinya bagai musuh yang harus diterkam. Andalan adalah pada kekuatan fisik. Dalam silat, lain, yang diadu adalah kecerdikan dan kependekaran. Dan penguasaan batin lawan untuk dikalahkan melalui tenaga dalam. Jadi bisa saja, orang bersilat, tapi silat tak terjadi atau tak berlanjut karena lawan telah dikalahkan dengan tenaga dalam itu terlebih dahulu.
Bayangkan si Waleed ini punya dua-dua. Keluar dan ke dalam. Keluar, martial arts: karate, kung fu, taek kwon do, sabuk hitam; ke dalam, silat, kecerdikan dan kependekaran. Tapi dia baru merasakan kemantapan dan kepiawaian bersilat itu setelah masuk Islam. Dan Waleed sendiri bilang, pesilat yang sesungguhnya tidak mungkin tanpa masuk Islam. Karena yang di balik badan kasar yang dibungkus dengan pakaian hitam-hitam itu bersemayamlah sebuah qalbu yang setiap detiknya mendenyutkan kata Allah, Allah, Allah, terus menerus tanpa hentinya. Dan tubuh kasar ini dikuasai oleh kalbu itu, tidak sebaliknya. Karenanya kita makan, ketika hanya lapar, minum ketika haus, istirahat ketika letih. Selebihnya: kerja, kerja, sambil bersama yang di dalam menyebut kata Allah dengan tasbih, tahmid dan takbirnya.
Ternyata Waleed ini bukan hanya seorang muslim tetapi juga seorang sufi. Dan memang melalui petualangan batin inilah pada akhirnya dia bertemu dengan Maulana Syeikh Muhammad Hisham Kabbani, pemimpin tarekat Naqshabandi untuk Amerika Utara di Kalifornia. Kabbani sendiri adalah seorang scholar, belajar ilmu kimia di American University di Beirut, terus kedokteran di Belgia, dan Hukum Islam, dan menulis banyak buku-buku tebal dan ensiklopedi, yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Uraiannya saintifik, tetapi enak dibaca dan menyentuh.
Melalui bimbingan dan latihan-latihan tariqat inilah Waleed kita temukan dia seperti sekarang ini. Dan sebagai murid dari Syeikh Kabbani diapun telah dibawa ke mana-mana, ke Turki, ke Siprus, pusatnya tarekat Naqshabandi, ketemu maulana Naqsyabandi nomor satu di Siprus, lalu ke Inggeris, Eropah, Timur Tengah, ke Indonesia, Malaysia, dan entah ke mana lagi.
Waleed yang kami kenal di Ann Arbor inilah yang sekarang mengajarkan silat Minang yang dijiwai dengan ajaran sufi, tarekat Naqshabandi, yang memperkenalkan budaya Minang ke masyarakat Amerika. Bukan Mochtar Naim, bukan siapa-siapa. Dan muridnya banyak, berdatangan dari berbagai penjuru Amerika, yang sebagian besar bule. Dan, melalui silat Minang ini dia telah mengislamkan ratusan orang Amerika. Ya karena tadi itu, silat tak mungkin tembus tanpa isinya Islam, katanya meyakinkan.
Kami sekali dibawa ke rumahnya. Dekat saja dari tempat tinggal kami. Kami tinggal di family housing, di kampus utara, dia sedikit di luarnya. Masya Allah. Apa yang kami lihat? Sebuah rumah lantai bawah di lereng lembah yang berpohon mapel yang sekarang lagi rontok karena musim dingin. Dan pemandangannya ke lembah indah sekali melalui sela-sela pepohonan yang lagi meranggas itu. Rumah yang dibiarkan tinggal tidak berkunci, begitu masuk suasananya sudah lain. Sejak dari pintu masuk pertama lalu beranda terbuka dengan kolam-kolam hias, air mancur, dsb. Masuk ke pintu dalam kita disugukan dengan satu pemandangan rumah yang sangat berbeda dengan rumah lain-lainnya. Di mana-mana, di dinding, di lantai, di atas meja, sekeliling yang penuh dengan hiasan, lukisan, objet d’art. Itu lho, barang-barang antik, curios, dari berbagai negara, terutama dari negara-negara Islam, dan penuh buku-buku, khususnya yang berkaitan dengan sufi dan sufism. Dan permadani-permadani sampai ke pernik-pernik, gantungan-gantungan yang semuanya ditata rapi dan menyenangkan sekali. Sebagai perintang kesepian dia memelihara dua ekor kucing anggora berbulu lebat putih-putih, dan sangat manja, tapi elok laku. Dan kedua kucing ini tidak pernah keluar rumah. Kedua kucing itu punya wc sendiri dengan caranya sendiri.
Saya tak tahu apakah ada kaitannya antara alis mata lentik dengan kesenangan mengumpul pernik-pernik itu. Dan semua itu dia atur dan tata sendiri, dan bersihkan sendiri, tanpa ada orang kedua yang mendampinginya. Belakangan kami baru tahu, rupanya sangkutan hatinya itu sedang menunggu nun di Jakarta. Entah kapan akan bertemu. Tetapi katanya, insya Allah, segera. Karena diapun merindukannya. Waleed waktu kami ketemu dengan syeikhnya di Idul Adha kemarin, sudah diingatkan agar segera menikah, dan kawin dengan anak gadis Minang yang sudah berputih mata menunggunya itu.
Kamipun sementara ini sudah punya rencana mengusahakan dia dengan dua-tiga muridnya, sambil mendalami lagi silat di Sumatera Barat, juga mengajarkan Bahasa Inggeris ke madrasah-madrasah dengan sistem aktif. Di samping itu mendorong supaya di setiap madrasah ataupun surau di Sumatera Barat dihidupkan kembali latihan silat. Semua itu masih rencana, karena bagaimanapun perlu biaya yang cukup banyak untuk mendatangkan mereka. Sekadar untuk perumahan dan makan insya Allah pengurus-pengurus madrasah akan mampu menyediakannya. Tetapi untuk ongkos transportasi pakai pesawat, dan sekadar wang saku, masih harus putar otak dan cari jalan. Mudah-mudahan Allah swt melapangkan jalan. Allah sendiri sudah mengatakan: Kalau kamu membantu-Ku, kau akan Ku-bantu.
Cerita tentang si Waleed ini baru sempurna setelah kami suami-isteri dia bawa ke mesjidnya di sebuah kota, Burton namanya, kira-kira sejam bermobil ke arah utara Ann Arbor. Sebelumnya untuk shalat Jum’at, tetapi kemarin untuk shalat ‘Idul Adha. Sengaja memilih shalat ‘Idul Adha ke sana karena, satu, shalat ‘Id dari komuniti Islam di Ann Arbor bergabung dengan lain-lainnya di satu kota lagi yang dekat ke Detroit, dan dua, karena yang akan jadi khatib dan imam di mesjid Naqshbandi di Burton itu adalah maulananya betul: Syeikh Kabbani, yang datang all the way dari Kalifornia. Memang di Burton pun dia juga punya rumah, sehingga Kabbani dan isteri atau anak-anaknyapun suka datang ke sana sambil mengunjungi jemaahnya.
Apa yang kami lihat? Sebuah gereja dengan dua bangunan terpisah yang telah disunglap jadi mesjid. Di atas atapnya ada kubah-kubah kecil dari aluminium yang sengaja didatangkan dari Indonesia. Itu seperti yang kita lihat dijual orang di sepanjang jalan ke Bogor atau ke Puncak. Kita masuk ke dalam mesjid, masya Allah. Suasana Indonesia. Ukiran-ukiran kaligrafi dari kayu bikinan Jepara yang sangat indah-indah. Ada ukiran dari tabir penyekat yang pernah kami lihat di bilangan Kramat di Jakarta di sebuah rumah dari guru tarekat pula orang Bugis tempat anak laki-laki kami pernah belajar suluk di sana. Dan semua kaligrafi kayu dan lain-lain yang bukan kayu ditata dengan rapi dan apik sekali, sehingga menciptakan satu suasana yang kita orang Indonesia penuh haru dan bangga; karena kaligrafi Japara telah memberikan sahamnya di sana, di samping kubah di luarnya yang dari Bogor itu.
Dan itu jelas adalah bekas tangannya si Waleed. Sebab kecuali dia kami tak lihat ada orang Indonesia yang ikut jemaah sana itu. Kaitannya juga mungkin dengan seorang pengikut atau pemimpin jemaah Naqshabandi di Jakarta yang urang awak juga, Pak Firdaus dan Ibu Tini, yang orang kaya suka dimakan pula, konon pengusaha bidang perkapalan, dll.
Shalat Idul Adha kemarin itu terasa spesial. Pertama, ini dia, seorang yang disanjung-sanjung dalam jemaahnya, dan seorang scholar pula di samping seorang syeikh dan maulana sufi. Berambut putih, berjenggut putih cukup panjang sampai ke dada, berserban, berjubah, ala sufi-sufi Turki, tidak besar, tidak tinggi, tetapi juga tidak kecil, sudah cukup berumur, dan lembut. Dari wajahnya yang putih-bersih itu seolah memancar cahaya hati yang bersih dan bening. Khutbahnya isinya bagus sekali. Bahasanya, Arab dan Inggeris, tersusun rapi seperti dalam teks walau tak pakai teks. Tetapi dia bukan seorang orator jangankan demagog. Yang dijelaskannya adalah arti dari hari ini: hari qurban, yang dikaitkannya dengan perlunya ummat Islam berkurban dalam memelihara agama Islam itu sendiri.
Lalu apa yang dilihat dari jemaah yang hadir, yang memenuhi keseluruhan ruangan yang ada, dan yang lantainya ditutupi dengan permadani yang tebal-tebal? Yang ada, kecuali beberapa yang dari Pakistan, sedikit yang Arab dan Timur-Tengah lainnya, kebanyakan justeru adalah para bule. Dan semua pakai jambang, dan banyak yang pakai serban sufi. (Saya gosok-gosok dagu dan bibir atas saya yang licin karena tiap pagi akan mandi selalu dicukur). Lalu di belakang di lantai atas ada pula sejumlah lk 30-an orang wanita. Sebuah gambaran yang jarang bersua di mesjid-mesjid yang sudah banyak kami kunjungi yang kebanyakan isinya orang-orang Arab, Pakistan, Afrika-Amerika, satu-dua Malaysia dan Indonesia, dan satu-dua atau beberapa bule. Kami tak bisa membedakan dari raut wajah saja mana yang muslim dari wilayah Balkan di Eropah, dan mana yang muslim konvert dari Amerika.
Atas inisiatif Waleed kamipun diperkenalkan kepada Maulana Kabbani. Pertama sebelum shalat di ruang kantor mesjid yang penuh buku, dan kedua dengan isteri setelah selesai shalat sambil foto-foto.
Dan kamipun pulang sesudah itu kembali ke Ann Arbor. Harus buru-buru pulang karena Waleed dengan murid-muridnya harus ikut final rehearsal untuk sorenya di Hill Auditorium di kampus Univ Michigan ikut memainkan pertunjukan Ramayana.
Dalam ruangan auditorium yang besar dan baru direnovasi, dengan audiens yang penuh, mengisi seluruh kursi di bawah dan di atas, Waleed memainkan peran sebagai Kumbakarna, dan muridnya: Ibrahim (Keith Ibrahim Gross) memainkan Hanuman. Waleed dan Ibrahim dalam tariannya membawakan unsur silat Minang ke dalam pertunjukan epik Ramayana. Sementara yang Rahwananya adalah sutradara sendiri, guru tari dan musik Jawa dari Surakarta: Matheus Wasi Bantolo dan yang Rama dimainkan oleh istrinya, ahli tari yang cantik-gemulai: Olivia Retno Widyastuti. Mereka berdua jadi dosen seni tari dan musik Jawa di Universitas Michigan.
Untuk Anda ketahui selanjutnya, apa dan siapa Bapak Waleed, alias Leonardo J Stoute, bukalah di internet: email: senihaqq@ hotmail.com, atau melalui Google Search: pencak silat, Anda akan dibawa ke suatu alam yang kita sudah tinggalkan, tetapi orang kemasi, dan sekarang telah mendunia. Pencak silat telah berkembang ke berbagai penjuru dunia, terutama di Eropah dan Amerika, dan punya pengikut dan penggemar ribuan orang. Bagi Pak Waleed silat Minang telah dia jadikan pula sebagai media dakwah, dan ratusan orang telah masuk Islam karena silat … Silat Minang. ***

0 Responses to “WALEED OUR BROTHER IN ISLAM GURU SILAT MINANG DI UNIVERSITAS MICHIGAN”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: