POLITIK ITU BISA BERSIH

Pengalaman dalam Berkampanye
untuk Duduk di DPD-RI

Padang, 2 Juni 2004

MINGGU malam, 31 Mei 2004, bakda Isya, anggota-anggota TimSuksesMN20 yang melakukan semua kegiatan kampanye Pemilu agar saya bisa terpilih di DPD 2004-2009, kumpul di tempat kediaman kami (Jl Cendrawasih 65, Air Tawar Barat, Padang), makan malam bersama, syukuran, dan membubarkan diri. Semua yang hadir, kecuali satu-dua, adalah para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota Padang ini, yang selama kampanye menyediakan diri secara sukarela menjadi tim pendukung: TimSuksesMN20.
Semua yang baru saja dilakukan dalam kegiatan Kampanye Pemilu 2004 itu tentu saja masih segar dalam ingatan. Masing-masing mengingatkan kembali akan pengalaman-pengalaman yang cukup mendebarkan yang telah dilalui selama masa berkampanye itu.
Kami memang tidak mengambil jalur biasa seperti yang dirancang oleh KPU Daerah sendiri, yang semua terjadwal setiap hari selama sebulan penuh, agar, katanya, tidak bertabrakan pada kota atau tempat yang sama, pada saat yang sama.
Kami mengambil jalur tersendiri. Kami tidak melakukan Kampanye Terbuka di lapangan, tidak juga tertutup di ruangan, dan tidak sekalipun juga pernah mengajak makan para wartawan dan tokoh-tokoh yang diharapkan akan mendukung, di hotel-hotel atau di restoran-restoran besar, seperti yang dilakukan oleh banyak kontestan. Kami juga tidak menyediakan baju kaus, envelop “angpaw,” atau apapun berupa bujukan agar mereka memberikan suara pada kami.
Kami tentu saja menyiapkan spanduk-spanduk yang akan dipampangkan di jalan-jalan, di kota-kota utama di Sumbar. Kami juga menyiapkan brosur-brosur, pamflet, kartu nama, dan tambahan: jadwal shalat sepanjang tahun di atas kertas luks tebal dengan latar belakang foto saya. Lalu di atasnya: “Mochtar Naim Nomor 20,” dengan gambar paku menusuk foto saya.
Kebetulan, memang, nomor saya sama dengan Nomor Partai Golkar, yang kata orang, nomor keberuntungan, karena Golkar memang kuat di Sumbar. Mereka yang masih buta politik, terutama di daerah pedesaan, yang terpengaruh oleh ajakan kampanye Golkar, juga menusuk nomor 20 saya. Tapi itu ‘kan hanya dugaan ketika orang mencoba mengait-ngaitkan dalam menganalisa kenapa saya ikut terpilih sebagai anggota DPD dari Sumbar.
Anak-anak kami di Jakarta sementara itupun juga kumpul kekuatan. Atas dorongan kawan-kawan mereka sesama Alumni SMA2 Negeri Padang, mereka cetak brosur, pamflet, spanduk, yang semua dilakukan di Jakarta. Sementara itu, kami waktu itu masih di Amerika, sebagai Fulbright Research Scholar di Univ of Michigan, Ann Arbor, Michigan. Kami mestinya 6 bulan di Amerika, tetapi diperpendek jadi 5 bulan karena harus segera pulang untuk mengikuti kampanye Pemilu awal Maret 2004.
Malah, sebelumnya, ketika ternyata bahwa banyak dari tanda tangan yang dikumpulkan sebelumnya tidak bisa diterima oleh KPU, karena banyak tanda tangan mahasiswa dengan kartu mahasiswa. Harus KTP. Pada hal banyak mahasiswa tidak punya KTP, makanya mereka kasikan kartu mahasiswa. Karena itu harus mencarikan tambahan tanda tangan sebanyak 130 buah lagi, walau yang diserahkan tadinya melebihi 3000 dari 2000 yang diperlukan.
Pada hal sementara itu kami sudah berada di Amerika karena tidak bisa menunggu sampai penghitungan tanda tangan dilakukan. Namun, dengan kecekatan TimSukses MN20, dalam 4 hari mereka bisa mengumpulkan 131 tanda tangan, berlebih 1 dari yang diperlukan. Dan ternyata gol. Maka loloslah saya untuk menjadi calon DPD.
Dengan bantuan dana dari kawan-kawan anak kami, Alumni SMA 2 Negeri Padang, mereka mensponsori dimuatnya prahara kampanye satu halaman penuh dengan foto saya terpampang besar, dan dengan visi dan misi jika saya menang pemilu, di sk Padang Ekspres, sementara seperempat halaman di Singgalang, untuk sekali terbit, beberapa hari menjelang usai masa kampanye.
Bagaimanapun, setelah dihitung-hitung secara kasar saja, kami masih harus mengeluarkan tidak kurang dari 30 juta untuk berbagai ongkos keperluan mencetak brosur, pamflet, spanduk, dsb, yang mau tak mau harus dikeluarkan, di samping ongkos mengirimkan tim sukses ke berbagai daerah menyebarkan brosur, pamflet dan spanduk itu. Yang saya tanggung, bagaimanapun, hanyalah sekadar ongkos transpor, makan di jalan, dan keperluan kecil lain-lainnya. Mereka berangkat secara berombongan dalam satu mobil ukuran travel angkot ke daerah-daerah yang telah ditentukan. Mereka kadang-kadang sudah tengah malam atau bahkan paginya baru sampai di Padang kembali. Yang di Padang biasanya melakukan pemampangan spanduk-spanduk juga sudah tengah malam dan selesainya sudah subuh.
Bayangkan, dari semua itu tidak satupun yang dibayar, dan bahkan tidak mau dibayar. Mereka rata-rata adalah mahasiswa dan banyak juga yang bekas mahasiswa saya sendiri yang sekarang sudah bekerja di mana-mana, di kantor-kantor pemerintahan, swasta, jadi guru, dosen, dsb. Di sini yang menonjol benar-benar adalah hubungan primordial, hubungan antara guru dan murid yang tak bisa diukur dengan duit.
Contoh yang saya lakukan ini mungkin langka. Kebanyakan, karena ingin menang, melakukan segala macam cara, yang untuk itu mengeluarkan duit atau dana yang tidak sedikit. Ukurannya kadang bukan lagi ber-jut, tapi ber-em. Maksudnya bukan lagi berjuta, tapi bermilyar. Bukan lagi enam nolnya, tapi sembilan. Dua hal bisa terjadi. Kalau menang, bagaimana caranya mengembalikan duit itu. Kalau kalah, alangkah mahalnya permainan politik itu.
Yang jadi pertanyaan adalah, apakah harus begini caranya berdemokrasi ala Barat itu. Apa tidak ada cara lain yang lebih sederhana dan lebih murah tetapi yang tidak kurang efektif dan efisiennya. Namun, ini mungkin makanan bagi para pemikir di tingkat atas itu. Kalau setiap tahun di mana-mana ada pilkada, dan sekali lima tahun ada pemilihan presiden/wakil presiden dan DPR/DPD/MPR, berapa duitnya semua itu. Triliunan, bukan? Baik yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun oleh partai dan kontestan yang jumlahnya bukan lagi ratusan tapi bisa ribuan untuk seluruh Indonesia. Bukankah ini jadinya salah satu penyebab dari penyelewengan di pemerintahan, di DPR/DPRD dan dalam masyarakat sendiri? ***

0 Responses to “POLITIK ITU BISA BERSIH”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: