JALAN KE DPD Mochtar Naim Calon Terpilih DPD dari Sumbar

MELAKUKAN kilas-balik kepada pengalaman politik yang baru saja dilalui bisa merupakan sebuah renungan tersendiri terhadap apa yang telah dilakukan selama ini sebagai anak bangsa yang kebetulan memilih untuk tinggal di daerah. Sejak kembali dari Amerika masih di tahun 1968 kami sekeluarga memang memilih untuk tinggal di daerah. Obsesi kami waktu itu adalah untuk melakukan penggalian dari unsur-unsur kebudayaan Minangkabau yang relevan untuk diangkatkan. Pada waktu itu kami sudah melihat bahwa percaturan politik yang di belakangnya bermain perebutan hegemoni dari budaya-budaya daerah mengharuskan kita untuk mengenal lebih baik budaya-budaya daerah itu, khususnya yang sedang berhadap-hadapan dalam perebutan hegemoni itu sendiri di pelataran nasional. Dan saya melihat bahwa secara dialektik yang berhadap-hadapan itu adalah unsur budaya J dan M yang luas saya ekspos melalui berbagai wahana dan media, khususnya melalui seminar-seminar dan tulisan-tulisan di dalam dan di luar negeri, di tahun-tahun 1970-an dan 1980-an. Selama tahun-tahun yang sudah panjang ke belakang dengan berada di daerah itu, secara sadar atau tidak sadar saya telah menempatkan diri sebagai orang yang melawan arus. Kekalahan yang diderita oleh daerah ini berhadapan dengan pusat dalam tragedi sejarah PRRI telah menimbulkan trauma mendalam yang dampaknya bahkan masih dirasakan sampai saat ini. Akibat kekalahan ini rakyat dan masyarakat Sumatera Barat seperti berubah kulit dan memendam konflik dalam dirinya sendiri. Di satu sisi ada kebanggaan terhadap nilai-nilai budaya yang diwarisi yang mengandung unsur-unsur positif dalam menghadapi tantangan zaman, tetapi di sisi lain harus menyadari kenyataan lain bahwa sebagai rakyat yang dikalahkan harus tunduk kepada nilai-nilai baru yang masuk yang sesungguhnya tidak sejalan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai yang dimiliki itu. Sebagai orang yang dikalahkan, pilihan yang diambil lalu kembali ke mamangan lama: Nan di urang diiyokan, nan di awak dilalukan. Kok mandi di ilia-ilia, manyauak di bawah-bawah. Tapi sikap ambivalen-mendua seperti ini lama-lama juga tidak jalan, karena tekanan yang terus menerus dan melalui perubahan-perubahan yang dilakukan secara sistematik, baik struktural maupun sistemik, melalui lintas generasi dan dengan segala macam cara. Perubahan tersebut sempurna sudah ketika Nagari dihapus dan diganti dengan Desa yang berlaku seragam untuk seluruh Indonesia model di Jawa. Akibatnya, lembaga-lembaga dan tatanan sosial yang ada di Nagari juga dihapus dan berganti dengan lembaga-lembaga serupa seperti yang berlaku di Jawa. Walau secara formal lembaga-lembaga dan tatanan sosial secara tradisional-adat itu masih ada, tetapi fungsi dan peranannya rontok. Ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai serta bundo kanduangnya, yang tinggal hanyalah predikat dan atribut-atributnya tetapi wewenangnya sudah tidak ada lagi. Yang tinggal hanyalah saluaknya, baju kebesaran dan sarawa galembongnya, serta tingkuluak tanduak, yang dipakai ketika menanti tamu-tamu agung yang datang dari Jakarta. Fungsi dan peranan yang dimainkan oleh pemimpin-pemimpin informal-tradisional tersebut sekarang diambil alih oleh Kades, Camat serta polisi resor, pengadilan, kejaksaan, KUA, dan sekian banyak dinas pemerintahan lain-lainnya yang bertali sampai ke Desa. Di jalur pendidikan, orang tua dan masyarakat telah digantikan kedudukannya oleh guru, sekolah dan pemerintah sendiri. Anak-anak sekolah dari TK sampai ke PT diindoktrinasi dan diregimentasi, sehingga menjadilah mereka generasi penurut dan pembeo yang mengiakan segala apapun yang datang dari atas. Tidak ada yang benar kecuali yang datang dari pemerintah. Dan Pancasila telah menjadi agama negara. Kalau dibedahlah benak anak-anak sekolah waktu itu, isinya tidak lain adalah ajaran Pancasila dengan sekian butir-butirnya itu yang dimasukkan melalui PMP, baris-berbaris, upacara-upacara, cium bendera sambil menangis terisak-isak, pramuka, dsb. Di kantor-kantor apa lagi. Setinggi apapun pangkat seorang pegawai negeri dia adalah abdi negara. Dia tunduk kepada sistem birokrasi yang diatur secara militer yang sifatnya hirarkik, top-down, tanpa tanya. Masukan-masukan boleh dipermusyawarahkan tetapi keputusan tetap di tangan Bapak. Yang dijalankan adalah pola paternalisme seperti yang berlaku di Jawa. Mengemukakan pendapat yang berbeda dianggap mengganggu keharmonisan dan karenanya tidak disukai. Dalam masyarakat pun mulut dijahit, dan rakyat dijadikan sebagai kuda beban pembangunan. Dalam berpolitik mereka menjadi alat kekuasaan dan mereka dijadikan menjadi massa mengambang yang dalam pelaksanaannya tidak lain adalah harus loyal dan ikut partai penguasa. Kemerdekaan berpikir, haram. Dosen-dosen, mahasiswa, dan tokoh-tokoh masyarakat sekalipun diharuskan untuk berpikir seragam sesuai acuan penguasa. Saya di Unand kesandung karena tidak bersedia menanda-tangani formulir untuk masuk partai pemerintah. Akhirnya saya dicopot walau dengan alasan karena umur saya sampai. Saya jadi pegawai negeri ketika umur saya sudah mencapai 50 tahun. Pada hal batas umur jadi pegawai negeri biasanya hanya sampai 38. Tetapi karena Fakultas Sastra yang saya bantu mendirikan memerlukan seorang dosen sosiologi di Jurusan Sosiologi, saya didesak untuk jadi dosen tetap. Kebetulan pada waktu itu tidak ada seorang sosiologpun di Sumbar bahkan di seluruh Sumatera yang sudah bergelar doktor. Secara separoh hati saya mengabulkan. Dengan dispensasi Presiden saya lalu diangkat jadi pegawai negeri golongan III B tanpa memperhitungkan pengalaman kerja dan pengalaman mengajar saya di mana-mana, di dalam maupun luar negeri. Ketika saya diminta untuk mengisi formulir meminta kenaikan pangkat, saya tidak isi, karena hemat saya aneh kalau saya minta kenaikan pangkat. Mestinya saya diberi jika memang saya berhak untuk menerimakannya. Birokrasi di Indonesia memang aneh. Kenaikan pangkat diminta, tidak diberi. Tapi sebaliknya mungkin saya yang dianggap aneh karena tidak mau mengikuti prosedur yang sudah ditentukan. Profesor Yurnalis Kamil yang jadi Rektor waktu itu minta saya untuk menyerahkan semua karya-karya ilmiah saya untuk dipertimbang-kan langsung jadi profesor. Saya menyerahkan dua kardus penuh yang setelah dinilai lebih dari dua kali lipat dari yang diperlukan untuk pangkat profesor. Tapi bagaimanapun, Senat Universitas tidak meloloskannya karena menganggap semua itu sudah hangus dengan saya masuk pertama kali dengan kepangkatan III B itu. Sayapun tergelak senyum dan paham akan arti yang tersembunyi di belakangnya. Akhirnya pisang itu masak sendiri. Setelah enam tahun pernah mengenyam jadi pegawai negeri (1982-1988) saya diberhentikan tanpa hak pensiun. Saya masuk dengan pangkat III B dan keluar juga III B. Namun orang di mana-mana mengira saya ini dosen senior. Banyak bahkan yang mengira saya ini profesor, dan memanggil saya profesor. Saya di mana-mana mengatakan bahwa saya tidak profesor. Tapi mereka tetap saja memanggil saya profesor. Penat saya, akhirnya saya biarkan saja. Di luar negeri, di manapun saya mengajar atau melakukan riset, saya memang diperlakukan sebagai profesor dan dengan hak sebagai profesor. Tapi di dalam negeri, tidak. Pangkat III B di perguruan tinggi adalah tingkat asisten, dan tidak berhak menguji sendiri. Tapi karena saya sudah doktor, sayapun menguji, memegang mata-mata kuliah sendiri; bahkan, sampai saya berhenti saya adalah Ketua Jurusan Sosiologi. Di mata publik di Indonesia waktu itu ada dua nama yang suka disebut-sebut yang membawakan nama Unand kemana-mana, satu almarhum Profesor Hendra Esmara, dan satu lagi Mochtar Naim. Yang satu ekonom, terkenal, yang satu lagi, sosiolog, juga terkenal. Dengan keberhentian saya di Unand mereka agaknya lega, tapi sayapun juga lega. Satu kali Profesor Mawardi Yunus yang waktu saya masuk itu adalah Rektor yang mengusahakan saya untuk jadi dosen tetap, dan saya membantu dia untuk mempersiapkan kehadiran Fakultas Sastra, dan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial berikutnya, berkata kepada saya, “Baa di Pak Mochtar di awak ko. Rumah sudah, tukang dibunuah.” Dia merujuk dengan keberhentian saya di Unand itu. Saya hanya gelak senyum saja. Yang berlaku selama masa itu sesungguhnya tidak lain dari situasi ketertekanan dan ketidak-bebasan yang dirasakan di mana-mana dari sebuah sistem totaliter di bawah kendali militer. Saya merasakan ini karena saya melihat yang sebaliknya di luar negeri ke manapun saya pergi yang demokrasinya jalan dan kebebasan jalan. Dalam saat seperti itulah saya merasa sendirian di daerah. Saya nyaris tidak punya kawan, karena semua kawan saya takut kena bulunya. Saya diumpamakan sebagai ulat bulu, dan juga dikatakan sebagai runcing tanduk karena kevokalan saya. Memang, Allah mentakdirkan, sayalah dari antara yang sedikit di Sumatera Barat ini yang punya keberanian untuk menyuarakan apa yang saya rasakan sebagai benar. Pada waktu itu, apa yang menurut kita benar, tetapi berbeda dengan yang diinginkan atau digariskan oleh pemerintah, harus dipendam saja. Kawan-kawan saya yang rata-rata adalah sarjana dan berpangkat macam-macam, takut periuk nasi akan tertunggang, memilih untuk diam, atau bahkan ikut mengelu-elukan semua apapun yang datang dari mulut penguasa. Sikap hipokrit dari para pejabat dan bahkan masyarakat sendiri memang marak waktu itu. Karenanya dengan keberanian saya itu saya dianggap menantang arus, dan sayapun dijauhi. Mereka takut akan membawa saya serta karena takut akan kena getahnya. Namun, saya tetap saja mengemukakan kritik-kritik sosial saya, dalam forum apapun, di daerah, di pusat, dan di manapun. Anehnya, justeru karena itu pula saya punya pasar tersendiri. Saya populer di kalangan perguruan tinggi, terutama di Jawa, yang ingin mendengarkan pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran dari saya yang berbeda dari yang lainnya. Kekuatan saya adalah karena saya menuangkan semua apa yang saya rasakan dan pikirkan itu dalam tulisan, yang selalu saya jaga kerasionalan dan keobyektifannya dan dalam kemasan bahasa yang lugas tetapi sopan dan bersastra. Tulisan-tulisan itu saya kirimkan ke surat-surat kabar dan majalah-majalah, dan sebagian jadi buku. Orang membacanya dan karenanya saya dikenal luas. Jeratan hukum karenanya tidak pernah sampai terkalung ke leher saya. Paling saya hanya pernah diancam melalui telepon akan dihabisi nyawa saya. Dan itu terjadi di saat reformasi baru dimulai. Saya di Padang juga turut menggerakkan aksi mahasiswa untuk mengganyang Orde Baru. * Itu barangkali yang teringat oleh rakyat di Sumbar ketika nama saya muncul sebagai calon DPD – yakni pengalaman-pengalaman masa lalu saya sebagai orang yang nyaris sendirian berjuang di Sumatera Barat ini. Saya secara terus menerus dan konsisten menyuarakan melalui tulisan-tulisan yang saya rasakan sebagai kebenaran, yang oleh rakyat di Sumbar mungkin dianggap itulah juga suara hati nurani mereka yang mereka tidak bisa mengemukakannya. Buahnya ini sudah saya rasakan juga ketika saya didesak untuk tampil sebagai calon anggota MPR RI tahun 1999, yang seperti sekarang dengan DPD ini, sayapun tampil dengan calon kelima urutan terakhir. Irman Gusman waktu itu sudah juga tampil sebagai pemenang nomor satu, menyusul Yanuar Muin, Nur Bahri Pamuncak dan Djamain Rifti. Dua terakhir sudah almarhum; semoga Allah melapangkan arwahnya dalam kubur, amin. Lalu selama saya di MPR sebagai anggota Utusan Daerah dari Sumbar, saya juga menyuarakan suara hati saya yang polos tanpa pretensi, tetapi yang selalu saya kemas dengan bahasa yang sopan dan terkendali serta prosaik itu. Karena Utusan Daerah tidak diberi kesempatan untuk membentuk fraksi sendiri, sayapun bergabung dengan Fraksi PBB. FPBB bahkan menunjuk saya untuk duduk di PAH II BP MPR RI mewakili Fraksi, sendirian, yang bagi saya adalah satu penghormatan sekaligus tantangan. Dengan tumbuk di awak tanak di awak sendiri saya hadapi tugas saya itu secara sepenuh hati, dan saya benar-benar merasakan nikmatnya; apalagi jika kita tahu apa yang kita kemukakan itu didengar orang dan bahkan dihargai. Latihan-latihan akademik yang saya dapatkan terutama yang saya dapatkan dari belajar dari berbagai universitas di luar negeri telah membekali saya dengan kemampuan untuk melihat permasalahan secara lebih konsepsional, jeli dan kritis-analitis. Akibatnya, banyak dari konsep-konsep yang saya kemukakan yang diterima dan bahkan menjadi hasil rumusan bersama. Konsep-konsep yang saya kemukakan mengenai Otonomi Daerah, perlunya pembentukan Fraksi Utusan Daerah, dan bahkan ide DPD ini sendiri dalam sistem legislatif yang bikameral; lalu diakhirinya peranan TNI-Polri dari politik praktis, perlunya kita memiliki etika berbangsa dan bernegara, dsb, telah mewarnai pembahasan dan pembicaraan di PAH II dan di Badan Pekerja MPR RI umumnya. Dan semua itu saya tuangkan dalam sebuah buku: Suara Wakil Rakyat (326 halaman; 2002) sebagai laporan pertanggung- jawaban saya kepada rakyat Sumbar yang memberikan amanah kepada saya melalui DPRD Sumbar yang menunjuk saya. Tanpa harus membanggakan diri, sayalah satu-satunya dari 700 anggota MPR RI yang melakukan itu. Saya merasa itu adalah kewajiban moral saya untuk memberikan pertanggung-jawaban dari amanah yang diberikan kepada saya itu. Melalui kedermawanan dua orang sahabat saja buku itu selesai dicetak dan terbit pada waktunya. Tepat pada waktu Sidang Umum MPR RI th 2002 buku yang dicetak cukup luks itu dibagi-bagikan kepada seluruh anggota MPR, para menteri, presiden dan wakil presiden yang hadir pada waktu itu. Kemudian juga kepada seluruh anggota DPRD Sumbar, gubernur dan wakil gubernur dan sejumlah bupati, dan sejumlah banyak sahabat, saya berikan secara cuma-cuma. Sedikit-banyak rakyat di Sumatera Barat mungkin juga tahu. Dan mereka tentu juga mengikuti tulisan-tulisan saya yang kabarnya banyak yang menyukainya justeru karena kelugasan dan ketajamannya itu, apalagi dengan dikemas dalam bahasa yang sopan dan enak dibaca. Karenanya, ketika saya harus mempersingkat pemukiman saya di Amerika Serikat, dari yang tadinya untuk 6 bulan menjadi 5 bulan, untuk mengejar saat berkampanye di Sumatera Barat, saya tidak terlalu kuatir. Saya mendapatkan scholarship dari Fulbright untuk melakukan penelitian dalam rangka pengklasifikasian ayat-ayat Al Qur`an secara tematik dan topikal yang sudah saya mulai sejak cukup lama. Saya sudah menyelesaikan 5 jilid dari 10 jilid yang direncanakan. Yang 5 jilid itu sudah diterbitkan dan sudah beredar di masyarakat. Yang 3 jilid berikutnya sudah dan sedang saya garap, termasuk ketika 6 bulan saya dan isteri ikut anak dan menantu di Leeds, Inggeris, sebelumnya. Saya diterima sebagai peneliti tamu di University of Leeds dan bergabung dengan School of Theology, dengan fasilitas selengkapnya. Lima bulan setelah kembali dari Inggeris, saya dengan isteri berangkat lagi ke Amerika. Saya menjadi peneliti tamu di University of Michigan, di Ann Arbor, Michigan. Saya pulang pas sehari sebelum kampanye Pemilu 2004 dimulai. Dalam hati saya berfikir, alangkah Maha Kuasanya Allah, yang kalaulah saya terus duduk di Badan Pekerja MPR mewakili FUD di awal 2002 yang saya turut bersusah payah memperjuangkannya, tentulah saya tidak akan mungkin pergi ke Inggeris dan ke Amerika itu. Dan saya akan lekat tinggal di MPR di Jakarta itu. Allah memang Maha Pengatur akan jalan kehidupan para hamba-Nya. Ketika kami berangkat bulan Oktober 2003 ke Amerika saya baru saja menyerahkan hasil pengumpulan tanda tangan untuk bisa lolos menjadi calon DPD dari Sumbar. Semuanya berjumlah 3000-an tanda tangan dari 2000 yang diharuskan. Tahunya dari yang 3000-an itu cukup banyak yang ditolak dengan berbagai alasan. Banyak dari pendukung saya adalah mahasiswa yang menyerahkan kartu mahasiswanya. Ternyata kartu mahasiswa dinyatakan tidak berlaku oleh KPU. Banyak pula dari pemberi tanda tangan yang KTPnya sudah kadaluarsa walau niatnya ikhlas, di samping ada beberapa yang bahkan memberikan kopy surat nikah dan kartu keluarga. Ada 130 tambahan tanda tangan yang harus dicarikan dalam waktu hanya beberapa hari, sementara saya sudah ada di Amerika. Allah sekali lagi menunjukkan jalan. Tanpa harus pulang kembali ke Padang, adik-adik bekas mahasiswa saya yang menjadi anggota Tim Sukses MochtarNaim20 saya beri mandat untuk menyelesaikannya. Dan ya pula; mereka lakukan itu dengan penuh percaya diri dan menyerahkannya tepat pada waktunya. Dan diterima oleh KPU sehingga saya lolos sebagai calon DPD. Tim Sukses saya seluruhnya terdiri dari para mahasiswa. Beberapa adalah bekas mahasiswa saya sendiri yang sekarang telah menjadi orang, dan yang lain-lainnya yang tergabung dalam Yayasan Amal Saleh, yang saya bina; puluhan banyaknya, laki-laki dan perempuan, dari berbagai kampus universitas. Merekalah yang mengatur semua-semua, melakukan apa yang harus dilakukan dan bekerja ada yang sampai jam 4 pagi baru pulang. Merekalah yang mengedarkan pamflet, brosur dan kartu-kartu serta memasang spanduk-spanduk di hampir semua kota. Kami mencarter mobil untuk mengedarkan pamflet, brosur dan kartu-kartu itu sampai ke ujung-ujung negeri – ke Sitiuang-Koto Baru, ke Alahan Panjang-Muaro Labuah, ke Painan-Balai Salasa-Air Haji, ke Pasaman, ke kota-kota lain di darat tentunya. Semua nyaris tanpa berbunyi. Dan semua mereka tak satupun yang dibayar atau mau dibayar. Dengan cara itu mereka memperlihatkan solidaritas-keperdulian dan kesetiakawanan mereka kepada guru dan pembimbing mereka. Dan ada lagi. Anak-anak kami yang di Jakarta, dan satu di Balik Papan, ikut urunan dan menanggung biaya pembikinan dan pencetakan brosur, pamflet dan spanduk yang dibikin di Jakarta. Mereka juga disuport oleh kawan-kawan sealumni SMA2 Padang mereka yang sekarang juga sudah jadi orang dan banyak pula yang sudah sukses dalam usaha bisnis macam-macam mereka. Mereka malah terbang langsung ke Padang dan kumpul di rumah kami di Air Tawar; masing-masing turun tangan dengan yang bisa mereka lakukan. Merekalah yang menanggung biaya advertensi prahara di surat-surat kabar. Satu halaman penuh di Padang Ekspres dengan diskon luar biasa dari pimpinan Padang Ekspres, dan seperempat halaman di Singgalang dengan juga diskon istimewa dari pimpinan perusahaan. Di bawahnya tak lupa kami selipkan: “Prahara ini dimungkinkan dengan bantuan dana dari sejumlah alumni SMA2 Padang.” Dan dalam prahara itulah saya cantumkan visi dan misi saya jika rakyat Sumbar memberi kepercayaan kepada saya untuk duduk di DPD nanti. Ada 8 komitmen yang saya cantumkan jika saya nanti terpilih untuk duduk di DPD itu. Saya sendiri tidak sekalipun melakukan yang namanya kampanye terbuka di lapangan itu. Saya ngeri sendiri melihat betapa banyaknya dana yang harus disediakan untuk melakukan kampanye terbuka itu di satu tempat sekali lalu saja. Puluhan juta harus disediakan untuk bermacam-macam keperluan, sejak dari logistiknya, transportasinya, nasi bungkusnya, baju kausnya, envelop penghiburnya, di samping sewa tempat, keamanan, spanduk, pamflet dan entah apa lagi itu. Saya bahkan juga tidak melakukan kampanye dalam ruangan sekalipun, atau makan-makan undang orang di hotel, di restoran, dsb, seperti orang-orang lain itu. Satu-satunya yang saya lakukan hanyalah kasi ceramah di mesjid-mesjid. Karena baru kembali dari Amerika, saya pikir yang akan menarik bagi khalayak tentulah mengenai cerita perkembangan Islam di Amerika, yang ternyata memang sangat diminati. Kampanyenya itu sendiri paling-paling dengan menyelipkan satu dua kata: “Jangan lupa menusuk gambar saya: Mochtar Naim nomor 20.” Itu saja. Lalu, kebetulan pula, datanglah ke Padang ini teman akrab kami waktu di Ann Arbor. Dia, Muhammad Khalid ibn Waleed, terlahir Leonardo J. Stoute, berasal dari Panama, tadinya Katolik, sekarang warga negara Amerika. Dia guru silat di kampus Univ of Michigan, dan silat yang diajarkannya adalah silat Minang (Silek Tuo). Dia datang seminggu menjelang kampanye usai. Tadinya kami menginginkan dia datang sesudah kampanye selesai supaya perhatian bisa penuh diberikan kepadanya. Tetapi atas saran anggota Tim Sukses yang di Jakarta akhirnya diputuskan untuk menerimanya justeru di saat kampanye sedang hangat-hangatnya, yaitu seminggu terakhir itu. Dengan tujuan untuk saling memanfaatkan, kami bawalah dia ke kampus-kampus, ke sekolah-sekolah dan ke mesjid-mesjid. Waleed yang telah kami anggap dan perlakukan sebagai anak kami ini selain muslim juga masuk tarikat, dan tarikatnya Naqshabandi. Selagi di Michigan kami sudah dibawa ke mesjidnya di kota Burton, dan ketemu pula di sana di waktu hari raya Haji dengan Maulana Syekh Hisham Kabbani, pemimpin spiritual Naqshabandi di Amerika Serikat asal Lebanon. Waleed telah mengislamkan banyak murid silatnya, karena menurut dia, silat Minang tidak akan mantap kalau tidak dengan Islam. Melalui silat dan tarekat inilah kami masuk ke kampus-kampus, ke sekolah-sekolah dan mesjid-mesjid itu yang ternyata sangat menarik bagi pengunjung. Saya kecuali mengantarkan dan memperkenalkan dalam pembukaan ceramah, tinggal mengingatkan untuk tidak lupa menusuk gambar Mochtar Naim nomor 20. Itu saja. Dan ternyata disambut dengan grrrrr. Ke mana kami pergi selalu meriah karena juga diselingi dengan demonstrasi silat yang dibandingkan dengan kungfu dan taikwondo. Kedatangan Waleed ternyata sangat membantu. Dia juga saya ekspos sebelumnya di Singgalang ketika kami masih di AS. Ketika demonstrasi-demonstrasi silat diadakan di GOR Agus Salim dan di Imam Bonjol serta di Rumah Sakit M. Djamil, koran-koran Padang juga meliputnya; apalagi kamipun mendatangkan Inyiak Palatiang dari Gunuang, Padang Panjang, yang katanya sudah berumur lebih dari 100 tahun, tetapi yang fisiknya masih bagus dan pesilat wanita kenamaan. Atraksi silat menjadi menarik karena Waleed sempat dijatuhkan oleh Inyiak Palatiang. Waleed memang sengaja menjatuhkan diri untuk menghormati pesilat wanita tua itu. Di kampus UNP, di Fakultas Keolahragaan, Waleed bahkan bersilat dengan guru-guru silat tua dari IPSI Sumbar. * Ketika tiba waktu penghitungan suara perhatian sendirinya beralih ke papan penghitungan, ke koran-koran dan ke televisi-televisi; ada pula dua-tiga minggu lamanya maka selesai. Calon DPD yang dipilih adalah yang 4 besar dari 23 calon yang lolos. Untuk DPD karenanya perhatian justeru tertumpu ke nomor 4, 5, 6 dan 7 yang pernah turun naik terjadi saling berganti. Untuk nomor 1, 2 dan 3 sejak dari awal nampaknya tidak berubah, kecuali beda suara antara nomor 2 dan 3 relatif sangat dekat. Tetapi yang nomor 1 sejak awal sudah melejit bagai meteor jauh ke depan tak terturutkan. Saya sendiri pernah ada di nomor 6, lalu naik secara perlahan ke 5 dan 4. Ketika saya telah berada di nomor 4 tiap kali Haluan berkomentar, belum ada jaminan yang Mochtar Naim bisa bertahan di nomor 4, karena bisa saja akan diambil alih oleh yang sekarang nomor 5, 6 ataupun 7. Penghitungan suara memang berjalan lambat. Sepertinya penggunaan komputer tak banyak membantu. Memang dari segi perubahan angka-angka yang terjadi kita bisa pula deg-degan, persis seperti yang dikatakan Haluan itu. Tetapi dari semula saya sudah punya pegangan dan pegangan itu nampaknya cukup menenteramkan hati saya. Apa lalu yang menjadi pegangan saya itu? Aa Gym bilang, itulah dia MQ: Manajemen Qalbu. Saya waktu di Bukittinggi disuruh oleh Ketua Persatuan Pedagang Pasar Bawah untuk menemui seorang ustadz di Pasar Lereng di kompleks warung nasi Kapau. Ustadz ini lalu mengajarkan kepada saya sepotong do’a yang ringkas saja dan cukup diucapkan dalam Bahasa Indonesia saja. Apa bunyi do’anya? Bunyinya: “Ya, Allah, berikanlah yang terbaik untukku.” Itu saja. Artinya, jika yang terbaik menurut Allah itu menang, alhamdu lillah. Tetapi jika yang terbaik itu adalah kalah, juga alhamdu lillah, karena itulah yang terbaik menurut Allah. Hutang bagi kita adalah menjalankan ikhtiar dengan sebaik-baiknya, dengan sekuat usaha, dan semampu kita, tetapi berhasil atau tidak bukan urusan kita. Itu urusan Allah. Alangkah indah dan mantapnya do’a itu. Rupanya Allah memilih saya menang. Saya berada di urutan ke 4, sehingga termasuk ke dalam kelompok yang dikirim ke Senayan untuk duduk di DPD mewakili Sumbar untuk tahun bakti 2004-2009. Insya Allah. Dan alhamdu lillah. Yang nomor 1, Irman Gusman, seorang pengusaha muda, kaya, ganteng, sarjana, lulusan dalam dan luar negeri, dan sekarang juga di MPR RI, wakil ketua FUD. Pandai bicara dan berdiplomasi. Yang nomor 2, Zairin Kasim, juga pengusaha muda, kaya, ganteng, sarjana dan memimpin usaha keluarga di bidang permobilan dll. Yang nomor 3, Afdal, juga pengusaha muda, kaya, ganteng, sarjana dan anak seorang Buya dari Pasaman yang menjadi Ketua Umum Perti dan anggota DPRD Sumbar. Konsentrasi perolehan suara Afdal memang dari Pasaman. Zairin di pesisir, Irman di mana-mana, dan saya merata. Yang nomor 4, terakhir, saya, kuda tua berkepala 7, tetapi masih mampu berpacu dengan anak-anak muda yang berkepala 3 atau 4. Berbeda dengan yang lain-lainnya, saya tidak didukung oleh ormas dan orpol manapun. Ada orpol anak muda yang tadinya mau mendukung saya. Tapi mereka kemudian menarik dukungannya itu untuk alasan yang tidak pernah saya ketahui, kecuali ada seorang yang bekas mahasiswa saya juga yang secara polos mengatakan, Bapak sudah tua. Anehnya, saya sendiri tidak pernah merasa diri saya tua. Fisik, mungkin, karena itu sunnatullah. Tapi insya Allah, kondisi fisik saya cukup bagus. Masih bisa mengalahkan seorang jenderal polisi sesama anggota MPR berbadan tegap dan muda, tiga tahun lalu, menaiki tangga Tembok Cina dekat Beijing. Saya sendiri sampai ke atas, ke puncaknya; dia hanya separoh jalan. Mental dan intelektual, bagaimanapun, sejauh ini, saya tidak pernah merasa tua. Dalam hati saya, untung juga tidak jadi. Dan saya tidak punya beban mental. Sementara calon lain yang didukung oleh partai anak muda ini tidak lolos. Lain, ‘kan, menang dengan usaha sendiri, dengan menang dibantu orang, orpol ataupun ormas. Saya juga tidak pakai duit karena duit itu memang saya tak punya. Paling yang saya keluarkan adalah yang mustahak-mustahak saja, yang mau tak mau harus ada dan diadakan. Saya terutama hanya mengandalkan kepada Yang Di Atas, kepada amal-amal saya di masa lalu sebagai bukti diri, dan kepada dukungan anak-anak muda mahasiswa dan pasca mahasiswa di sekitar saya. Lalu tentu saja do’a dari sekian banyak yang mendo’akan dan do’a saya sendiri dengan keluarga dan sanak-saudara serta orang kampung saya dan ummat serta warga yang mendukung saya. Jalan ke DPD ternyata asyik sendirinya, sebagai bumbu pelemak dan bahagian yang menarik dari perjalanan kehidupan saya. Dan saya bersyukur dan berserah diri kepadaNya. ***

0 Responses to “JALAN KE DPD Mochtar Naim Calon Terpilih DPD dari Sumbar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: