ISLAM BERKEMBANG DI AMERIKA

SEWAKTU kami pertama kali bermukim di Amerika, di kota New York, di tahun 1960-an, belum ada satupun mesjid yang ditemukan di kota terbesar di dunia itu. Waktu itu baru ada sebuah Islamic Center di daerah Brooklyn berupa bangunan apartemen tua yang satu lantainya dipakai untuk itu. Pemimpinnya adalah seorang syekh dari Marokko, yang kebetulan beliaulah yang melakukan upacara ijab kabul perkawinan kami yang resepsinya diadakan di Konsulat Jenderal Indonesia di Manhattan, tahun 1962. Lalu di daerah Harlem, yakni di daerah perkampungan orang kulit hitam, di Upper Manhattan, juga ditemukan sebuah bangunan yang dipakai untuk kegiatan pertemuan Orang Hitam Muslim (Black Muslims). Waktu itu mereka belum lagi melakukan shalat seperti yang kita lakukan, tetapi mirip seperti di gereja dengan duduk di bangku-bangku panjang yang berjejer dari depan sampai ke belakang. Dan di seluruh Amerika pada waktu itu baru ada mesjid Islamic Center yang megah di Washington, DC, dan di pemukiman orang-orang migran Muslim dari Timur Tengah yang sudah datang sebelum PDII di kota Dearborn dekat Detroit, pusat pembikinan mobil-mobil, di Michigan.
Namun itu 30-an tahun yang lalu. Sekarang di seluruh Amerika, sebaliknya, praktis tidak ada satu kotapun yang tidak ada mesjidnya. Dan pemeluknya bukan hanya para migran dari Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya, tetapi dari segala macam bangsa dan warna kulit. Di samping orang-orang kulit hitam yang berbondong-bondong masuk Islam, tidak kurangnya juga orang-orang kulit putih dan bahkan orang-orang Hispanik yang berasal dari Amerika Selatan dan Karibia. Orang-orang kulit hitam banyak yang mendakwakan bahwa mereka ketika dibawa dari Afrika dahulu sebagai budak telah juga beragama Islam tetapi kemudian dipaksa oleh tuan-tuan mereka masuk Kristen. Sekarang mereka hanya sekadar kembali kepada agama mereka semula.
Di kota Chicago, Illinois, mesjidnya bukan hanya satu, dua atau tiga, tetapi puluhan. Dari buku panduan kegiatan Islam di Amerika saya temukan, dari dua ribuan mesjid di Amerika, ada empat puluhan mesjid di kota Chicago dan sekitarnya saja. Di Ann Arbor, Michigan, tempat kami bermukim selama lima bulan kemarin ini, mesjid Islamic Center Ann Arbor, yang terletak dekat kampus-utara dari University of Michigan, mengadakan shalat Jum’at sampai dua kali secara bergantian, karena mesjid yang cukup besar itu tidak muat untuk sekali lalu saja. Hal yang sama juga terjadi di Silicon Valley di Kalifornia di mana para pekerja ahli elektronikanya banyak orang-orang muslim dari Pakistan, India dan Timur Tengah.
Di New York di samping mesjid baru yang ultra moderen di Manhattan bahkan juga ditemukan mesjid orang Indonesia sendiri di Queens. Di Orlando, Florida, yang kami kunjungi dalam bulan Desember yl dalam rangka menghadiri konvensi ‘Islam for Humanity’, masyarakat muslim di sana bahkan akan membangun kompleks pusat Islam lengkap dengan mesjid dan persekolahannya dari TK sampai ke PT di atas tanah bekas Ramada Inn milik orang Yahudi seluas lk 350 ekar.
Lalu, kajian tentang Islam dan dunia Islam bertebaran di banyak universitas, yang mahasiswa dan professornya berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Buku-buku baru tentang Islam dan dunia Islam juga bermunculan sebagai hasil kajian mereka. Di perpustakaan seperti yang saya lihat di University of Michigan ribuan koleksi buku dan jurnal tentang Islam dalam berbagai bahasa ditemukan. Belum pula sumber Islam yang sekarang keluar dalam bentuk CD dan yang tersalurkan melalui internet yang sifatnya maya dan mengglobal.
Seperti di banyak negara di Eropah sekarang, Islam di Amerika telah naik menjadi agama kedua sesudah agama Kristen: Protestan dan Katolik. Islam telah menggeser kedudukan agama Yahudi yang tadinya menduduki agama kedua. Jumlah orang Yahudi di Amerika ada sekitar 6 juta sementara orang Islam lk 8 juta.
Dalam masyarakat Amerika sendiri banyak dari mereka yang kehilangan orientasi dalam kehidupan karena materi dan kesenangan duniawi yang mereka buru selama ini ternyata taklah memberikan kepuasan batin kepada mereka. Agama mereka, Kristen, sebaliknya, tak mampu memberi kepuasan batin itu kepada mereka karena tak sejalannya doktrin agama dengan logika dan penalaran ilmiyah yang sudah menjadi bahagian dari cara hidup dan cara berfikir mereka. Dalam Islamlah, sebaliknya, mereka temukan kepuasan batin itu karena kesejalanan antara doktrin agama dan ilmu pengetahuan. Banyak dari temuan-temuan dalam bidang ilmu pengetahuan moderen yang mereka dapatkan bukannya menafikan tetapi bahkan membuktikan kebenaran dari ungkapan-ungkapan dan rahasia-rahasia alam yang dikemukakan dalam Al Qur`an.
Sebagai contoh: dalam sebuah Surah yang bernama Al Ĥadīd, yang artinya “besi,” dikatakan bahwa “besi itu Kami turunkan ke bumi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia” (Al Ĥadīd 57:25). Kata “anzalnā” yang berarti “Kami turunkan” (bukan Kami “ciptakan” seperti yang kita temukan dalam terjemahan ke dalam bahasa Indonesia) ternyata benar-benar dalam arti sesungguhnya, yaitu diturunkan oleh Allah dari langit ke bumi. Besi bukanlah material yang berasal dari bumi tetapi dari serpihan yang terpental dari supernova ketika peristiwa “big bang” terjadi di alam raya. Serpihan-serpihan yang berupa besi yang membara itulah yang jatuh ke bumi dan planit-planit lainnya. Ini dibuktikan oleh ilmu pengetahuan astronomi moderen yang berkembang di abad ke 20, sementara Al Qur`an sendiri telah mengatakan itu 14 abad sebelumnya ketika ilmu belum berkembang, dan orang Islam belum tersentuh oleh ilmu pengetahuan itu sendiri.
Juga dalam surah Ar Raĥmān (55:19-20) dikemukakan ada dua laut yang saling bertemu tetapi yang keduanya tidak saling memasuki, seolah-olah ada kaca yang membatasinya. Ilmu kelautan dari para ahli di Barat baru menemukan fenomena ini sudah di abad ke 20, sementara Al Qur`an telah mengatakannya 14 abad yang lalu.
Dan banyak lagi rahasia-rahasia alam yang dinukilkan dalam Al Qur`an yang kebenarannya justeru dibuktikan oleh orang-orang Barat yang non-Islam, dan bukan oleh orang Islam sendiri. Dengan demikian terlihat bahwa yang memungkinkan berkembangnya Islam di Amerika dan di dunia Barat lainnya bukanlah karena hasil jerih payah orang Islam dari dunia Islam tetapi oleh Allah sendiri dengan menurunkan Al Qur`an yang ternyata sangat sesuai dengan ilmu pengetahuan moderen.
Di sinilah kuncinya kenapa mereka tertarik dan bergairah untuk mempelajari Al Qur`an dan Islam. Tidak sedikit karenanya yang memilih masuk Islam dan meninggalkan agama warisan nenek moyang mereka, Kristen maupun Yahudi. Gambaran kontras sekarang kita lihat di Amerika, dan di negeri-negeri Barat lainnya, di mana gereja sepi dan mesjid ramai. Tidak sedikit dari mesjid-mesjid di sana yang adalah bekas gereja karena sudah tidak dipakai lagi. Mesjid Naqsyabandi yang kami kunjungi di Burton, Michigan, sejam perjalanan ke utara dari Ann Arbon, adalah bekas gereja yang terdiri dari dua bangunan. Di atasnya sekarang disongkokkan kubah-kubah yang didatangkan dari Indonesia sementara hiasan interiornya terdiri dari kaligrafi dari kayu bikinan Jepara.
Perkembangan Islam di Amerika, oleh karena itu, bukan karena hasil upaya para da’i yang datang dari negeri-negeri Islam, dari Timur Tengah maupun lain-lainnya. Tetapi terutama karena gejolak internal yang terjadi dalam diri dan masyarakat Amerika sendiri. Imam-imam dan da’i-da’i yang datang dari negeri-negeri Islam sendiri terutama hanyalah untuk membina dan membenahi masyarakat etnik masing-masing. Kebanyakan dari mesjid-mesjid yang bertumbuh juga punya warna etnik yang dominan dari jemaah mesjid bersangkutan. Sehingga kita temukanlah ada mesjid Arab, mesjid Yaman, mesjid Pakistan, mesjid Bosnia, Albania, bahkan mesjid Indonesia di Queens di kota New York.
Sejauh ini baru ada dua orang da’i dari Indonesia yang dikenal luas; satu Ustaz Muhammad Joban asal Purwakarta yang membimbing masyarakat muslim dari Kambodia di Seattle, Washington, dan satu lagi Ustaz Syamsi Ali dari Makassar yang menjadi imam di mesjid Indonesia di Queens. Kedua mereka punya nama dan reputasi tinggi. Bukan saja ilmu agamanya mendalam (yang satu lulusan Mesir dan yang satu lagi lulusan Pakistan), karenanya dua-dua menguasai bahasa Arab dengan fasih, di samping bahasa Inggeris mereka yang juga bagus. Mereka juga pandai bergaul dan punya watak dan kepribadian yang kuat dan sangat disukai. Kecuali itu rasanya sampai hari ini belum terdengar kalau organisasi seperti Muhammadiyah dan NU dari Indonesia punya kader da’i yang dikirim ke Amerika untuk tujuan berdakwah. Padahal orang Amerika kelihatannya sangat haus dan mendambakan mendapatkan bimbingan serta pencerahan tentang Islam itu.
Dalam masyarakat Amerika sendiri sikap mereka terhadap Islam berlapis dari antipati kepada simpati. Secara keseluruhan, masyarakat Amerika memang belum mengenal Islam itu. Pengetahuan mereka tentang Islam lebih diwarnai oleh gambaran orang Islamnya, yang semua menunjukkan gambaran keterbelakangan, kemiskinan, poligami, wanita berpurdah, dan tentu saja terorisme, kekerasan, dsb. Semua ini banyak-banyak adalah ulah dari pemberitaan media massa, khususnya TV, surat-surat kabar dan majalah yang kebanyakan dikuasai oleh kelompok zionis Yahudi. Yang menonjol adalah antipati, bahkan permusuhan; apalagi setelah peristiwa 9-11 yang menggemparkan itu.
Dan sikap pemerintah Amerika sendiri juga sangat dibumbui oleh kepentingan Amerika sendiri yang memperlakukan Islam dan ummat Islam sebagai seteru mereka. Memang benar apa yang dikatakan oleh Huntington itu. Dunia memerlukan lawan dan kawan. Setelah lawan utama Amerika, yaitu komunisme dan Soviet Rusia runtuh, sendirinya, mau tak mau Amerika memerlukan lawan. Dan mereka temukan itu pada Islam dan ummat Islam yang kebetulan memang sedang bangkit. Makanya berbagai macam gambaran kelabu dialamatkan kepada Islam dan ummat Islam itu.
Yang tidak tersentuh dengan propaganda perseteruan ini umumnya adalah orang-orang akademik dan kelompok intelektual Amerika yang bisa melihat dan menilai sendiri dan bisa pula memisahkan mana yang Islam sebagai ajaran dan muslim sebagai penganut ajaran. Mereka cukup memahami kedua-duanya, bagaimana kaitan dan perbedaan serta persamaan antara keduanya. Kebanyakan dari mereka yang tertarik dengan Islam dan bahkan masuk Islam itu adalah dari kelompok intelektual ini, khususnya yang ada kaitannya dengan perguruan tinggi: mahasiswa dan tenaga pengajar.
Apa yang kita lihat sejauh ini adalah bahwa Islam di Amerika bukan lagi barang yang jauh di luar diri mereka tetapi telah ada di tengah-tengah mereka sendiri. Islam dari sesuatu barang aneh sekarang sudah tidak aneh lagi. Dialog-dialog dan bahkan kerjasama-kerjasama telah mulai kelihatan. Dalam tubuh ketentaraan di Amerika sendiri sekarang telah ada imam-imam tentara yang resmi sifatnya; karena tidak sedikit tentara Amerika yang juga muslim, terutama yang berkulit hitam. Penjara-penjara di Amerika memerlukan imam-imam dan da’i-da’i karena banyak dari orang tahanan yang meminta agar disediakan imam-imam dan da’i-da’i muslim. Di negara-negara bagian, terutama, sudah ada orang Islam yang jadi wali kota, yang jadi anggota legislatif, dsb. Dan dari para migran muslim sendiri tidak sedikit yang menjadi dokter, insinyur, tenaga ahli ini dan itu. Mereka bukan dari kalangan bawah tetapi dari kalangan menengah ke atas. Dan ini juga membantu membentuk citra Islam di Amerika, yang Islam itu tidak harus identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Kebanyakan dari yang masuk Islam dari antara mereka sendiri adalah justeru orang-orang dari kalangan yang berpendidikan tinggi dan dari kalangan menengah ke atas.
Islam di Amerika berkembang dengan relatif cepat sekali, dan kita sepertinya melihat, bahwa Islam akan memainkan peran yang makin besar di tengah-tengah masyarakat Amerika, walau semua itu memerlukan waktu dan proses yang mungkin akan panjang ke depan. Tapi yang jelas, kehadiran Islam sudah makin dirasakan dan dia telah ada di tengah-tengah masyarakat Amerika sekarang ini. ***

0 Responses to “ISLAM BERKEMBANG DI AMERIKA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: