TRILOGI BUDAYA “AIM” DALAM SISTEM EKONOMI, POLITIK DAN SOSIAL-BUDAYA NUSANTARA

Sempena menyambut Pertemuan
Saudagar Minang Sedunia
7-9 Syawal 1428 H/ 19-21 Okt 2007
Di Padang

I

PERTANYAAN mendasar yang patut, dan perlu, dike-mukakan dalam kita menatap ke masa depan bangsa kita, yakni dalam kita mendisain sistem ekonomi, politik dan sosial-budaya yang bagaimana yang sewajarnya kita kem-bangkan di Indonesia ini, maka paradigma yang kiranya patut kita pakai adalah: “mempertemukan antara yang baik dengan yang baik,” sesuai dengan adagium budaya kita: “Yang baik dipakai, yang buruk dibuang, dari manapun datangnya.” Cirinya karenanya adalah universal dan terbuka, bukan sekto-ral, parokial dan tertutup, apa lagi senofobik.
Indonesia kebetulan adalah wilayah kepulauan di gugusan khatul istiwa di belahan timur dunia ini, yang mempertemukan dua benua: Asia dan Australia, dan dua lautan besar: Lautan India dan Pasifik, dan karenanya terletak di persimpangan jalan lalu-lintas budaya dan perdagangan dunia. Wajar kalau berma-cam corak budaya dunia dari manapun datangnya, dan ditam-bah dengan yang tumbuh dari dalam blantika budaya Nusan-tara sendiri, saling bertemu, saling berinteraksi dan saling berakulturasi satu sama lain.
Namun, budaya-budaya Nusantara sendiri secara naluriah terkelompok ke dalam dua corak pensikapan terhadap proses interaksi dan akulturasi terhadap pengaruh-pengaruh yang datang dari luar itu. Satu yang sifatnya “sintetik” dan yang satu lagi yang sifatnya “sinkretik.” Yang sintetik berarti bahwa dalam proses interaksi dan akulturasi itu yang terjadi adalah proses persenyawaan, di mana yang serasi melebur diri ke dalam satu kesatuan sintesis yang baru, sementara yang tidak serasi disingkirkan. Yang “sinkretik” berarti bahwa dalam pro-ses interaksi dan akulturasi itu yang terjadi adalah aglomerasi atau penggabungan tanpa yang satu harus melebur dan bersenyawa dengan yang lainnya, dan tanpa apapun yang harus dibuang.
Budaya Minangkabau dan Melayu secara keseluruhan menganut paham yang pertama: sintetik, sementara budaya Jawa dan sejumlah yang seiring lainnya menganut paham yang kedua: sinkretik.
Secara lintas budaya kebetulan kedua-dua kelompok budaya ini memiliki tiga unsur trilogi yang sama, yaitu A (Adat), I (Islam) dan M (Modernisme).1 Adat diartikan sebagai nilai-nilai budaya primordial yang tumbuh dari dalam, yang telah ada sebelum Islam masuk. Adat pada budaya sintetik adalah ajaran etika yang orientasinya adalah kepada hukum alam yang rasional, dikenal dengan adagium: “Alam terkem-bang jadikan guru,” sementara Adat pada budaya sinkretik adalah ajaran etika yang orientasinya kepada kekuatan meta-fisik-supernatural yang sifatnya magis-animistik dan sarwa-roh, dan yang mengedepankan “rasa” (emosi) daripada “priksa” (rasio).
I (Islam) juga diartikan dengan konotasi berbeda antara kedua kelompok budaya itu. I (Islam) yang sintetik diartikan secara kaffah, menyeluruh, yang dibedakan antara yang aqidah yang sifatnya absolut – take it or leave it — dengan yang mua-malah yang toleran, reseptif dan akomodatif. I (Islam) yang sinkretik diartikan secara relatif yang dari segi theologinyapun bisa bergabung atau terpadu dengan kepercayaan lain-lainnya secara sinkretik itu. I (Islam) bahkan diperlakukan sebagai sama dengan yang lain-lainnya, dengan adagium: “Sedaya agami sami kemawon” – semua agama sama saja, dalam arti, sama baiknya.
Sementara M (Modernisme) adalah sekadar identitas pe-namaan bagi unsur-unsur budaya yang datang belakangan melalui persentuhannya dengan budaya Barat yang pertama kalinya dibawa masuk oleh penjajahan Barat melalui sekolah dan pencerahan (Aufklärung), dan yang sekarang cakupannya mengglobal. Intinya adalah cara berfikir yang logis dan rasional melalui pendekatan ilmu pengetahuan.

I

A M

Trilogi Budaya AIM
(Adat, Islam, Modernisme)

Dalam wahana budaya kontemporer Indonesia sekarang ini kebetulan yang lebih dominan adalah budaya sinkretik yang menerima unsur budaya manapun dan dari manapun tanpa melakukan proses sintesis, yang berarti penyaringan dan perse-nyawaan. Kredo dari budaya sinkretik ini kebetulan pula tersimpulkan dalam falsafah kenegaraan “Pancasila” dan sim-bol kesatuan “Bhinneka Tunggal Ika” yang didisain dan diarsiteki oleh bapak pendiri Republik ini, Bung Karno.
Sila pertama dari Pancasila adalah “Ketuhanan Yang Ma-ha Esa.” Namun dalam pemahamannya, semua agama apapun masuk ke dalamnya, baik yang murni monoteismenya, seperti Islam, maupun yang mengartikannya “satu dalam tiga” (tri-nitas), seperti Kristen, dan bahkan yang menganggap bahwa konsep ketuhanan adalah di luar jangkauan kemampuan penalaran manusia, seperti Budhisme, atau politeistik sekali-pun, seperti Hinduisme, dan bahkan juga animistik, seperti agama Kahayangan (Kalimantan), Kejawen (Jawa), dsb. Prin-sip “Ketuhanan Yang Maha Esa” di sini tidak diartikan secara sintetik tetapi secara sinkretik.
Begitu juga dengan sila-sila yang lainnya yang tidak ada satu pendefinisian yang disepakati, bahkan yang tidak boleh ditafsirkan. Pelarangan terhadap penafsiran sila-sila dari Panca-sila yang baku, dan diterima oleh semua, sampai saat ini masih berlaku. Setiap kita, dan setiap aliran apapun, silahkan men-definisikannya menurut keyakinan dan kepercayaannya ma-sing-masing, tanpa yang satu menyalahkan atau menafikan yang lainnya.2
Dalam pengejawantahan dan praktek pelaksanaannya maka kita lihatlah bagaimana prinsip demokrasi dalam kehi-dupan politik bisa bersebelahan atau bercampur-baur dengan feodalisme, paternalisme, etatisme, totaliterianisme, militeris-me, dsb. Dan semua sekali dipakai. Dalam kehidupan ekono-mi, bagaimana kapitalisme yang berorientasi kepada keun-tungan maksimal tanpa menghiraukan prinsip-prinsip etika dan norma sosial, bersebelahan pula dengan prinsip ekonomi syariah, ekonomi kerakyatan, dsb, seperti yang muncul bela-kangan ini. Dan semua juga sekali dipakai. Dan begitu seterusnya yang lain-lainnya. Semua hidup bersama dalam kedamaian ataupun kegalauan aglomeratif yang bersifat sinkre-tik itu.
Lain dengan kelompok budaya sintetik seperti yang rata-rata dianut oleh puak sukubangsa Melayu di Nusantara ini di mana suku Minangkabau termasuk ke dalamnya. Dalam trilogi budaya A (Adat), I (Islam) dan M (Modernisme) itu, ketiga-tiganya bersenyawa dengan kredo: ABS-SBK: Adat Bersendi Syarak – Syarak Bersendi Kitabullah. Atau dengan istilah lokal lainnya yang artinya adalah sama: Gorontalo: “Adat i Hulo-hulo a to Sara, Sara a Hulo-hulo a to Kitabi.” Ternate: “Adat Matoto Agama, Agama Matoto Kitabullah.” Bugis-Makassar: “Ade Nasali-puri Syariat, Syariat Nasalipuri Kitabullah.” Dan Minang: “Adaek Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabulah.”
Dalam trilogi budaya AIM yang sintetik ini, adat yang dipakai adalah yang sejalan dan serasi dengan syarak, dan sya-rak sendiri adalah yang mengacu kepada Kitabullah: Al Qurānul Karīm, sebagai acuan tertinggi dan terminal dari trilogi itu, dan sekaligus penyaring. Ini artinya bahwa semua yang lain-lainya yang tidak serasi dengan itu, dibuang. Semen-tara semua apapun, dan dari manapun datangnya, yang baik dan yang serasi dengan itu, diambil dan dipakai. Karena itu sifatnya adalah universal. Lā syarqiyah wa lā gharbiyah – tidak timur dan tidakpun barat.
Dengan berpedoman kepada Syarak dan Al Quran ini maka semua yang baik dari manapun datangnya, diambil, dan semua yang lainnya yang tidak serasi, ditolak. Adat maupun Modernisme karenanya menjadi terbagi dua: yang serasi de-ngan I (Islam) dan yang tidak serasi dengan Islam. Yang serasi dipakai, yang tidak serasi dibuang. Yang tidak serasi dikatakan sebagai adat/modernisme jahiliyah, dan yang serasi adat/ modernisme islamiyah.
Dalam trilogi yang sintetik ini pertimbangan primordial karena pertalian darah ataupun kesukuan bisa dikalahkan oleh pertimbangan keserasian sintetis dalam trilogi itu. Artinya, hubungan bertali darah ataupun kesukuan sekalipun bisa putus manakala yang bersangkutan menukar keyakinan agamanya kepada yang lainnya. Sementara siapapun, dan dari manapun, yang tidak bertali darah ataupun kesukuan, diterima sebagai saudara seiman karena kesamaan keyakinan terhadap I (Islam).
Budaya sintetik yang islamiyah ini sendirinya adalah alter-natif either-or bagi budaya sinkretik yang sedang berlaku dan berperan sekarang ini dalam blantika dan belantara kehidupan di Indonesia ini: politik, ekonomi, sosial-budaya, dst. Per-gumulan budaya di sepanjang abad ke 20 dan 21 ini, baik dalam konteks nasional maupun global, kelihatannya menjurus ke arah perspektif pergumulan budaya alternatif either-or ini.
Karena dalam supremasi budaya sinkretik yang berlaku di Indonesia sekarang ini juga memungkinkan diberlakukannya budaya sintetik secara bersebelahan dan pada waktu yang sama, maka tantangan bagi kelompok sintetik adalah menyiap-kan blue-print, grand-design, ataupun kerangka dasar, dari pola kehidupan yang sifatnya sintetik itu, baik pada pelataran politik, ekonomi, sosial-budaya, dsb. Dengan demikian orang dan masyarakat pun mempunyai pilihan antara keduanya.

II
Uraian di atas adalah dalam bentuknya yang ideal, kon-septual dan fundamental, dengan mengacu kepada pola ideal (ideal-type)nya yang murni. Dalam kenyataan sosietal sesung-guhnya, bagaimanapun, praktek yang terjadi bisa lain, yang tidak selalu sejalan dengan pola ideal itu, dan bahkan bisa menyimpang dari dasarnya. Soalnya karena unsur-unsur bu-daya yang mempengaruhi begitu banyak dan bertumpang tindih, melalui berondongan sejarah dan pengaruh-pengaruh berbagai macam yang masuk, baik yang serasi maupun yang tidak serasi dengan ajaran pokok. Tak obahnya seperti kita melihat Islam dan ummat Islam, Kristen dan ummat Kristen, dst. Ketika kita melihat kepada ajaran agamanya, yang kita lihat tentulah ajarannya yang murni yang bersumber kepada kitab sucinya. Tetapi ketika kita menoleh kepada ummat penganut-nya, maka mereka adalah anak sejarah dan anak budaya yang dibentuk oleh berbagai unsur, baik yang dari ajaran agamanya yang dianut maupun yang dari luarnya yang bisa sejalan tetapi juga bisa saja bertentangan dengan ajaran agamanya itu sendiri. Yang lebih menentukan di sini sering adalah siapa atau faktor apa yang lebih dominan memberi pengaruh dalam pergaulan peradaban itu. Dalam lalu-lintas peradaban dunia ini biasanya berlaku hukum: yang kuat melanda yang lemah, yang kaya memakan yang miskin. Homo homini lupus!
Demikianlah kita melihat perjalanan sejarah dari orang-orang dan suku-suku bangsa, yang dalam kenyataan empiris-sosiologisnya bisa dekat tetapi juga bisa jauh dari ajaran agama atau budayanya yang murni itu. Begitu orang Islam di Indonesia, dan begitu orang dan suku-bangsa lainnya di mana-mana. Ketika perjalanan sejarah peradabannya sedang menu-run, seperti selama ini, kita akan melihat bahwa praktek-praktek yang bersua di hampir semua bidang kehidupan banyak yang tidak serasi dengan ajaran dan pola idealnya itu. Lihatlah, Islam yang mengajarkan kepada kejujuran, amanah, kerja keras, tekun, rajin belajar, hemat, saling membantu, –yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin — saling bekerjasama, membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang haram dan yang halal, dsb, yang bersua dalam kehidupan senyata dari ummat bisa saja yang sebaliknya atau tak sejalan dengan itu. Sehingga gambaran ummat itu menjadi muram, sementara ajaran agamanya yang begitu luhur tertutup karenanya. Persis seperti dikatakan oleh Amir Syakib Arselan, dan juga oleh Muhammad Abduh, “Al Islām maĥjūbun bil muslimīn.” Islam itu tertutup oleh orang Islamnya.
Dan sukanya, orang lain di luarnya cenderung melihat kepada ummat ini dari segi praktek pengamalannya, bukan dari segi sumber ajaran itu sendiri, atau kesediaan untuk melihat secara obyektif beda dan kesamaan antara ajaran dan pengamalan itu. Kecenderungan pernilaian yang bersifat subyektif ini kelihatannya juga merata, tabii, dalam arti, semua orang cenderung bersifat seperti itu. Orang Islampun, ketika melihat kepada ummat-ummat lainnya, juga cenderung melihat apa yang dipraktekkan, bukan apa yang diajarkan. Karenanya cenderung melihat sisi-sisi pengamalan yang negatifnya, ataupun menyimpang. Kecenderungan ini oleh Francis Bacon dikatakan sebagai “idol of the cave.”
Sebagai akibat dari pengalaman di bawah penjajahan selama tiga setengah abad yang menyebabkan bangsa ini menjadi terbelakang dalam hampir semua hal, wajar kalau supremasi ajaran seperti yang diperlihatkan oleh Islam itu tidak segera kelihatan dalam manifestasinya. Ajaran Islam akan memantul ketika pemeluknya tanggap dan berupaya keras untuk mengamalkannya, seperti yang kita lihat dalam sejarah kegemilangan Islam di masa lalu.
Tanda-tanda pemantulan kembali, bagaimanapun, sudah mulai terlihat dengan kita mulai memasuki abad ke 21 Masehi atau 15 Hijriyah ini, abad yang menjanjikan bagi kebangkitan Islam kembali. Tanda-tanda ke arah itu bukan lagi fajar kazib, tetapi sudah fajar siddik, baik secara nasional maupun internasional dan global. Nyatanya, satu per satu dari ajaran Islam di berbagai bidang politik, ekonomi dan sosial-budaya, mulai mencuat dan diterima secara terbuka dan menjadi alternatif bagi lain-lainnya yang telah ada selama ini.
Di bidang politik, misalnya, bagaimana prinsip musyawa-rah dan pengambilan keputusan secara konsensus atau bahkan prinsip-prinsip demokrasi yang berorientasi kepada kepenting-an orang banyak dengan dasar keadilan dan kesetaraan, adalah sumbangan Islam terhadap pergaulan dunia.
Di bidang ekonomi, bagaimana prinsip ekonomi syariah yang tidak mengenal riba maupun bunga tetapi bagi hasil dan bagi keuntungan yang didasarkan kepada kemaslahatan bersa-ma, bukan persaingan sengit pasar bebas yang tujuannya ada-lah melumpuhkan dan mematikan lawan, dsb, mulai diminati di berbagai negara, termasuk Indonesia dan di negara-negara non-muslim sekalipun. Sekarang bank syariah telah ada dan menjalar ke mana-mana di dunia ini.
Di bidang sosial-budaya, bagaimana nilai-nilai kehidupan sosial-budaya yang selama ini berorientasi sekuler, perten-tangan kelas, materialistik, sensual dan hedonistik, mulai men-dapatkan sentuhan spiritual dan moral yang memancar dari ajaran Islam, dan bagaimana, dalam kalangan ummat Islam sendiri, perubahan-perubahan sikap dan cara hidup telah dan sedang terjadi. Siapa menyangka jika pakaian muslimah yang tadinya hanya dipakai oleh kelompok lingkaran dalam tertentu saja, sekarang telah menyebar dan masuk ke kampus-kampus dan sekolah-sekolah, di samping kantor-kantor pemerintahan maupun swasta, yang tadinya boleh dikatakan tabu. Pada hal tidak sesiapapun yang memaksa. Juga, bagaimana, jika di praktis semua kantor-kantor dan tempat-tempat umum, terse-dia mushalla atau bahkan mesjid. Dan suasana keagamaan sangat menonjol di saat-saat bulan puasa, sehingga pelarangan terhadap perjudian, minum-minum dan pelacuran pun dilarang tidak lain oleh tangan pemerintah sendiri. Bagaimana pemerin-tahpun mulai tertarik dengan upaya pengumpulan zakat di samping pajak berbagai macam yang telah ada selama ini. Dst, dst.
Semua ini adalah tanda-tanda cewang di langit, yang bukan lagi fajar kazib ataupun siddik, tetapi yang mataharinya sudah mulai terbit dan menyingsing, sebagai pertanda bahwa “hari-hari itu diperedarkan,”3 dan bahwa, ibarat roda pedati, peradaban pun diperedarkan, sekali di atas sekali di bawah.
Tinggal lagi pilihan: apakah Islam yang kaffah dan utuh-menyeluruh, dengan semua unsur budaya yang lain-lainnya mengacu kepadanya, ataukah Islam yang sepenggal-sepenggal, yang maunya ini saja, yang itu tidak, atau dalam konteks politik kontemporer Indonesia sekarang, cukup mengacu kepada Pancasila saja, di mana urusan agama dan nilai-nilai agama adalah urusan diri dan kelompok masyarakat masing-masing, sementara urusan politik, ekonomi dan sosial-budaya jangan dicampur-adukkan dengan agama. Agama itu, katanya, terlalu suci untuk dikotori oleh politik, ekonomi, dsb itu. Pada hal, mestinya, agama itulah justeru yang tujuannya adalah untuk membersihkan semua yang kotor dari budi pekerti dan fiil perangai dari para pemeluknya itu. Dan karenanya agama harus ada di mana-mana dalam memberikan tuntunan yang benar dalam setiap kegiatan kehidupan itu: politik, ekonomi dan sosial-budaya.

III
Kedua-dua trilogi budaya AIM yang bersifat dikotomik di bumi Nusantara ini, bagaimanapun, akan tetap berlanjut, yang sampai saat ini belum terlihat tanda-tanda akan terjadi peleburan ke arah di mana yang satu mengalah terhadap, atau dikalahkan oleh, yang lainnya. Bagaimanapun, di dunia Islam di mana dikotomi itu tidak dimungkinkan, yang terpakai adalah trilogi budaya AIM yang sifatnya sintetik, integral, kaffah dan komprehensif itu. Ini juga artinya bahwa kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya harus mengacu kepada rujukan utama, yaitu I (Islam), seperti yang tergambar dari trilogi budaya AIM yang sintetik di mana adagium yang ter-pakai adalah ABS-SBK. Negara-negara Islam seperti Malaysia, Bangladesh, Pakistan dan ke barat lainnya ke negara-negara Islam di Timur Tengah, konsep trilogi yang sintetik telah berjalan, dan menuntun aspek-aspek kegiatan politik, ekonomi dan sosial-budaya menemukan jalannya yang serasi dengan ajaran I (Islam) itu.
Bagaimanapun, karena kedua trilogi itu dimungkinkan untuk berjalan secara parallel dan bersebelahan di bumi Indonesia ini, maka tantangan dan peluang sekarang tengah dihadapkan kepada penganut trilogi budaya sintetik, untuk melanjutkan upaya-upaya yang telah dimulainya itu dalam ketiga aspek kehidupan politik, ekonomi dan sosial-budaya itu. Pasal 29 UUD 1945 yang memastikan “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” yang berarti pengejawantahan secara institusional dan struktural dalam penegakan hukum terhadap sila pertama dari Pancasila, memungkinkan untuk melanjutkan upaya-upaya perealisasian trilogi budaya AIM yang sintetik itu, kendati bersebelahan dengan trilogi budaya AIM yang sinkretik.
Ke depan, yang diperlukan tentu saja pertama-tama adalah penyiapan kerangka dasar (grand design), cetak-biru (blue print) dan perencanaan (programming) yang berjangka-jangka. Kecuali itu mengambil hikmah dari perjalanan sejarah yang telah dilalui selama ini, dengan melihat di mana kelemahan dan kekuatan di samping tantangan yang sekarang tengah diha-dapkan kepada kita. Muhasabah dan pereviuan dari apa yang telah dilakukan sebelumnya tentu saja adalah bahagian yang integral dari sistem dan mekanismenya yang tujuannya adalah untuk melakukan koreksian dan perbaikan serta penyempurna-an secara berkala ke masa depan.

IV
Karena tulisan ini juga ditujukan sebagai sumbangan pemikiran bagi para Saudagar Minang Sedunia yang akan bertemu muka buat pertama kali dalam suasana lebaran, 7-9 Syawal 1428 H/19-21 Okt 2007 M yad ini, di Padang, sejemput saran dan harapan dinukilkan di sini.
Pertama-tama, sebagai orang Minang, kita tidak perlu lagi mencari-cari dasar berpijak mana yang akan kita pakai dalam berbagai kegiatan politik, ekonomi dan sosial-budaya ke masa depan. Kita tinggal memperkuat dan menyempurnakan dari apa yang telah ada ini. Sebagai orang Minang, kita telah memadu adat kita dengan syarak yang dibuhul dalam konsep ABS-SBK itu. Kita secara kebudayaan kebetulan juga sejalan dengan puak-puak Melayu lainnya yang luas tersebar di Nusantara ini, di mana juga termasuk Malaysia, Brunei dan Sabah, bahkan Moro di Filipina Selatan, dan Pattani di Siam Selatan. Secara global lalu ikatan batin dengan dunia Islam lainnya.
Trilogi budaya AIM yang kita pakai adalah yang mengacu kepada adagium ABS-SBK itu. Sehingga yang kita perlukan adalah merancang secara bersama-sama kerangka dasar dan perencanaan ke masa depan itu di samping menyiapkan alat-alat kelembagaan dan program aksi yang diperlukan.
Sebagai orang Indonesia, kita adalah “yang sedikit yang bisa membanyakkan,” dalam arti, walau secara demografis orang Minang hanya merupakan sekitar 3 % dari seluruh penduduk Indonesia, namun secara kualitatif dan substantif kita harus berupaya untuk selalu menjadi yang terbaik dan memberikan kontribusi yang terbaik dan terbanyak bagi negara yang kita dirikan dan bangun bersama ini.
Sebagai orang Islam, kitapun harus menjadi pemeluk yang terbaik dengan mengamalkan ajaran agama ini secara optimal dan kaffah-sempurna. Islam bagi orang Minang adalah masalah hidup-mati, karena tidak ada pilihan lain kecuali adalah Islam. Dan Islam menjiwai akan keseluruhan hajat hidup orang Minang: politik, ekonomi dan sosial-budaya.
Dan sebagai warga dunia, kita menyerap semua yang baik dari manapun datangnya, dan menyingkirkan semua yang buruk dari manapun datangnya. Orang Minang adalah yang selalu dahaga akan ilmu dan pengetahuan dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang ada. Tujuan hidup orang Minang adalah berupaya menjadi insan kamil yang selalu dekat kepada-Nya dalam mencari redha-Nya.
Orang Minang memiliki falsafah hidup yang dunianya itu bergerak secara instan dari mikrokosmik ke makrokosmik, secara vice versa, yang: “Jiko dibalun sabalun kuku, jiko dikambang saleba alam.” Artinya, dia bisa bolak-balik secara instan antara dunia dirinya yang kecil itu, yang “jika dibalun hanya sebalun kuku,” dan dunia besarnya, yang “jika dikembang selebar alam.” Orang Minang, karenanya, bisa merasa di rumah di mana saja di serata dunia ini. Tugasnya adalah: “Tegak di suku menjaga suku, tegak di kampung menjaga kampung, tegak di negeri menjaga negeri, dan tegak di dunia menjaga dunia.” Karenanya, “Pantang Melayu atau Minang hilang di dunia.” Pengertiannya yang spatial juga berlaku secara spiritual.
Kedua, dalam bidang ekonomi dan perdagangan, orang Minang-kabau adalah yang menjadi pelopor terhadap tegak dan berjalannya sistem ekonomi syariah yang dimulai dengan perubahan yang dilakukannya terhadap upaya ekonomi dan perdagangan yang mereka lakukan yang sasarannya adalah kepada pelaksanaan ekonomi dan perdagangan syariah secara utuh dan kaffah.
Orang Minang patut berbangga diri karena jauh sebelum-nya telah mempelopori usaha rumah makan yang telah menye-bar ke mana-mana di Nusantara ini bahkan manca-negara yang prinsip manajemennya berdasar asas kekeluargaan dengan sistem bagi hasil tanpa gaji. Dengan sistem RMM (Rumah Makan Minang) ini hubungan pemilik modal dan karyawan tidaklah vertikal tetapi horizontal. Keuntungan dibagi secara proporsional menurut fungsi dan peran masing-masing, dengan juga mengindahkan masa kerja, kerajinan, kesediaan kerjasama, kredibilitas-akuntabilitas, dan kejujuran. Kontrol dan sanksi juga berlaku secara sistemik dan built-in. Untuk pembersihan dan menjadikannya menjadi ibadah, zakat dan infak macam-macam juga dikeluarkan oleh perusahaan.
Dengan prinsip manajemen berdasar asas kekeluargaan dengan sistem bagi hasil ini, orang Minang telah menjadi peletak dasar bagi sistem ekonomi dan perdagangan Indonesia masa depan dan tinggal meningkatkan dan menyempurnakan. Sistem yang sangat serasi dengan prinsip syariah ini perlu disebar-luaskan untuk juga dipakaikan dalam semua usaha korporasi dalam bentuk apapun, dari yang bersakala kecil sampai yang besar sekalipun.
Ketiga, karenanya, orang Minang perlu membuang jauh imej buruk yang lekat dengan praktek perdagangannya di masa lalu, yang sifatnya adalah spekulatif, kurang kejujuran, kurang amanah, licik, kurang mengandalkan kepada kerjasama, kurang professional, dan kurang memanfaatkan ilmu manajemen dan teknologi moderen.
Keempat, sebaliknya, orang Minang perlu membangun citra budaya kerja keras, bekerja dalam jam-jam yang panjang, tekun dan bersungguh-sungguh, serta membangun kemampu-an manajerial dalam usaha-usaha yang berskala kecil, mene-ngah dan besar untuk mencapai corporate culture (budaya korpo-rasi) yang diandalkan dan menantang dunia.
Kelima, sementara di bidang politik dan sosial-budaya, orang Minang perlu menumbuhkan kembali kecekatan dalam berwawasan, ketajaman analisa dalam melihat permasalahan, kemampuan untuk menemukan solusi-solusi alternatif, dan menumbuhkan kembali bakat-bakat kepemimpinan, dengan kemampuan pandai dalam menempatkan diri, bijak dalam menghadapi kawan dan lawan, pandai menyelesaikan masalah, dan bijak dalam berekspresi, berkata-kata dan berdiplomasi.
Insya Allah, dengan kesediaan untuk melakukan intro-speksi diri dan berusaha untuk lebih baik ke masa depan, orang Minang, dan saudagar Minang khususnya, akan menapaki masa jayanya kembali. ***

___________
Catatan kaki:

1 Perhatian kita lebih tertuju kepada kelompok masyarakat yang beragama Islam, yang merupakan kelompok mayoritas terbesar, sementara kelompok masyarakat lainnya yang minoritas yang beragama bukan Islam tidak kita singgung di sini.
2 Pelarangan terhadap komunisme yang atheis lebih bersifat politis daripada kultural, karena Sukarno sendiri melalui doktrin “marhaenisme”nya lebih berbau marxis.
3 Ali ‘Imran 140.

0 Responses to “TRILOGI BUDAYA “AIM” DALAM SISTEM EKONOMI, POLITIK DAN SOSIAL-BUDAYA NUSANTARA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: